Adalah manusia ketika dia tak lagi menggunakan akal pikirnya untuk menetralisir perasaan yang sering mendominasi. Perasaan yang menjadi subyek dalam sederet kalimat sempurna menjadikan dirinya sendiri sebagai obyek. Bubuhan predikat dalam kata dominasi sengaja dipilih untuk mewakili situasi yang sedang dialami. Begitulah akhirnya bentukan kalimat itu terbangun.
Sederet bangunan kalimat lainnya mulai terfokus lagi pada satu kata lagi. Dialah perasaan. Pemenang nobel yang diselenggarakan oleh diri memperoleh point tertinggi. Kembali terulang peristiwa obyek yang sudah kemarin. Kejadian ini terulang dua kali. Bagai perumpamaan keledai yang mengisyaratkan istilah bodoh.
Perasaan lagi. Lagi-lagi perasaan. Dia begitu lembut menelusup setiap jengkal lini kehidupan siapapun yang sudah terpedaya olehnya. Diayun dalam balutan kasih sayang hingga telur menetas. Diyakini atau tidak obyek secara tidak sadar telah terkutuk oleh satu kata : MAU.
Hingga suatu saat individu baruterlahir dan mampu memecahkan konstruksi cangkang yang keras. Menggeliat, berjalan tertatih, hingga rangka mampu berdiri dan membawa lari menjadi pibadi yang diingini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah