Tampilkan postingan dengan label Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2015

Uji Pendengaran




Aktivitas pagi ini kumulai dengan membersihkan tempat tidur. Usai kegiatan itu, aku pergi ke dapur dan melanjutkan mencuci piring yang sebelumnya ibu kerjakan. Ibu bersegera mandi kemudian menunaikan tugas menjadi guru. 

Ritual pagi tak pernah lekang oleh lantunan merdu penyanyi Indonesia dan barat. Salah satunya Tulus. Lagu berjudul Gajah menarik perhatianku. Sambil menghaluskan sambal ijo pesanan kakak, ku-eja lirik lagu itu. Aku berhasil mendengarkan dengan baik dan runtut lagu itu. 

Jumat, 20 Februari 2015

KKN [17 dan Jumok]

*setelah seminggu menikmati kegiatan KKN

Seminggu sudah aku dan bala kurawa mendiami dusun Jumok. Dusun yang pernah menjadi imajinasi dan impian ketika masih bocah. Ingatan masa kecil berlarian mendulang waktu lampau. Masa kecil bertumbuh dewasa, meletakkan tujuan pada tempat berteduh. Berteduh dari teriknya matahari serta derasnya air hujan yang kadang membanjiri bilik – sungai.

Hidup di Jumok berniat menggugurkan kewajiban di semester tujuh. Bertemu, berkumpul dan bersama 17 orang teman berbeda jurusan. Mengisi aktivitas sejak matahari terbit sampai tenggelam

Sabtu, 31 Januari 2015

KKN [Akses Jalan]

*ditulis ketika masa kkn dan diedit sebulan setelah kkn usai


Aku seorang mahasiswa semester tujuh. Sekarang aku sedang menikmati kegiatan kkn. Kau tahu apa yang dilakukan mahasiswa ketika kkn? Bilang saja tidak tahu. Jangan memaksa diri untuk berbohong. Kasihan dirimu. Kau ingin tahu jawabannya tidak? Bila tidak, kupaksa kau untuk mau mendengarkannya.

Dimulai dari sekarang. 

Senin, 03 Maret 2014

Aku dan Jemari

Oleh: Yuslisul Pransiskasari

Perasaan bersalah atas janji diri mulai menuai. Menghantuiku, merampas kepercayaan. Sebiji kata tak lagi hadir menjadi kegiatan harian. Aku bersalah. Aku masih belajar. Tapi tak kunjung berlangsung kembali. Padam sementara. Aku mencari nyala diri, tapi belum berhasil. Berkali-kali mas Bandung kuusik dengan sms tak penting. Beruntung masih dibalas. Namun bukan jawaban. Dan temuan itu berlari pada seorang teman. Iri ini mulai panas. Menyulut api perasaan yang lain. Menyalakan janji yang semula padam. Meminta sang induk membuahi telurnya dalam kendali suhu. Beranak pinak menghasilkan keturunan. Membentuk ikatan keluarga bernama saudara dan orang tua. Terus begitu. Kemudian nyala ini meminta penjagaan ketat layaknya sang prajurit pengawas kerajaan. Jari-jari mulai melemas, bermain tuts keyboard ASUS merahku. Terlahir buah hati dari jeda berjarak sepuluh hari. Kisah tertuang dalam lembaran selanjutnya. 

Bermula dari buku. Perjalanan puluh tahun datang silih berganti. Mengendarai kuda tanpa kendali. Keluar