Oleh: Yuslisul
Pransiskasari
Perasaan bersalah atas janji diri
mulai menuai. Menghantuiku, merampas kepercayaan. Sebiji kata tak lagi hadir
menjadi kegiatan harian. Aku bersalah. Aku masih belajar. Tapi tak kunjung
berlangsung kembali. Padam sementara. Aku mencari nyala diri, tapi belum
berhasil. Berkali-kali mas Bandung kuusik dengan sms tak penting. Beruntung
masih dibalas. Namun bukan jawaban. Dan temuan itu berlari pada seorang teman.
Iri ini mulai panas. Menyulut api perasaan yang lain. Menyalakan janji yang
semula padam. Meminta sang induk membuahi telurnya dalam kendali suhu. Beranak
pinak menghasilkan keturunan. Membentuk ikatan keluarga bernama saudara dan
orang tua. Terus begitu. Kemudian nyala ini meminta penjagaan ketat layaknya
sang prajurit pengawas kerajaan. Jari-jari mulai melemas, bermain tuts keyboard
ASUS merahku. Terlahir buah hati dari jeda berjarak sepuluh hari. Kisah
tertuang dalam lembaran selanjutnya.
Bermula dari buku. Perjalanan
puluh tahun datang silih berganti. Mengendarai kuda tanpa kendali. Keluar