Minggu, 17 Mei 2015

Tanpa Sebutan Idola


Yuslisul Pransiskasari 
Mahasiswa semester 8 jurusan Tadris Matematika FTIK IAIN Tulungagung yang sedang merampungkan skripsi  


Setelah sekian lama tak mengidolakan seorang guru di masa SMA, idola itu justru muncul di saat aku kuliah. Perjalanan mengidolakan seseorang berawal dari keinginan melampaui teman-temanku SMA, justru berdampak pada banyak hal. Aku mulai membuka diri, senang belajar apapun, mulai membaca apapun, mulai membuka buku-buku yang pernah aku beri salam perpisahan, mulai tersenyum memandang buku sejarah ketika aku pernah berusaha menguburnya. 

Tak hanya pikiranku yang terbuka, tapi masih ada pintu yang tertutup untuk beberapa hal. Tapi bila kunilai sendiri saat ini, masa itu sangat perlu. Masa dimana aku pernah melepas pergi buku sejarah di SMA kelas
XI, saat aku gandrung ingin mempelajarinya di waktu yang sangat singkat (satu kali tatap muka setiap satu minggu). Karena pelajaran sejarah diantara pelajaran olahraga dan istirahat, tak jarang guru sejarahku (Pak Shodiq) kadang memutuskan mengobrol bukan terkait materi yang disampaikan sebagai obrolan ringan. Kelas XII aku mendapat guru sejarah yang gemar membaca (Pak Ahmad Zainal Fachris). Beliau gila baca dan gila berpikir. Namun waktu belum berpihak padaku. Aku tak begitu menikmati pertemuanku dengan beliau di kelas XII. Pertemuan dalam kelas membuatku gusar. Ternyata aku tak cocok bertemu dengan beliau dalam keadaan formal.

Saat kelas X aku mendamba bertemu dengan beliau di kelas XI. Tapi jalan belum mempertemukanku dengan beliau di ruang kelas. Jalan lain justru membuatku bersemangat karena beliau adalah salah satu pembimbing di salah satu ekstra yang aku ikuti sejak aku masih duduk di bangku kelas X. Beliau rajin mengunjungi anak didiknya di sarang, begitu kami menyebutnya waktu itu. Aku bertemu banyak teman yang lebih gila mencurahkan waktu demi sarang. Aku merasa beruntung saat itu. 

Masa lalu tak hanya membawa luka, namun seringkali tak menyadari kehadirannya sekaligus sebagai penyembuhan. Waktu membredel ketakmampuan dalam diriku. Pertama, aku tak diijinkan kuliah di jurusan Psikologi. Kedua, aku tak diijinkan kuliah di Jogja. Ketiga, ibu menginginkanku kuliah di jurusan Bahasa Arab tanpa tahu kemampuanku. Keempat, bapak menginginkanku untuk kuliah di daerah yang dekat-dekat saja. Usahaku menginap di asrama UM Malang demi meloloskan diri dalam ajang kompetisi SNMPTN demi keinginan sang ibunda, tidak berpihak padaku. Justru aku terdampar di daerah kecil, daerah kelahiran bapakku, Tulungagung. Begitu indah perjalanan yang Tuhan gariskan padaku. Melalui kota kecil ini aku mengenal saudara bapak, menemukan berlian dalam jerami, mempertemukanku dengan orang-orang hebat, melemparkanku untuk berpikir pelan-pelan. 

STAIN Tulungagung. Aku diterima disini bukan karena aku menginginkannya. Namun karena aku memilihnya. Ketiga pilihan jurusan dalam ajang kompetisi SBMPTAIN waktu itu membawaku bertemu dengan guru baru yang siap membawaku kemanapun kumau. Aku mulai berani bermimpi, aku mulai berani menyebutnya idola baru. Semester awal menjadi pembuka jalan menuju sang idola. Sebut saja pak Dr. Agus Zainul Fitri, M.Pd. Orang menyebut beliau sebagai doktor termuda di kampus lulusan manajemen UIN Maliki Malang. Perjalanan mengidolakan seseorang berhenti sampai disitu. Pertemuan dengan beliau di semester tiga tak mampu menembus ukuranku dalam mengidolakan beliau lagi. Beliau berubah dengan kemampuan perubahan yang belum kumiliki. Aku menyerah mengidolakan seseorang. Aku berjalan lagi menemui orang-orang yang sudi menampungku. PKFT lalu DIMeNSI. Rentang usia semester satu hingga dua kuhabiskan dengan belajar di PKFT. Sisanya aku melanjutkan belajar di DIMeNSI. 

Perjalanan berlalu makin membuatku gila berpikir. Banyak hal melesat keluar dari dalam diriku, pikiranku hingga aku kehabisan cara bagaimana mengajaknya berjalan perlahan. Keinginan belajar banyak hal justru muncul ketika aku sedang mengerjakan skripsi. Aku mendapat dosen pembimbing Pak Syaiful Hadi, M.Pd. Beliau mengajar statistik saat aku di semeter dua, mengajar analisis real 1 dan 2 saat semester 4 dan 5. 

Awalnya aku meragukan beliau dalam membimbingku. Rentang waktu 5 bulan lebih berada dalam dampingan beliau, meski secara jadwal aku jarang meminta bimbingan pada beliau namun perlahan aku belajar, beliau sangat memahamiku. Aku dibiarkannya berjalan sendiri tanpa kekang ini itu dari beliau karena aku memang menginginkan jalan seperti ini. Aku suka berjalan sendiri lalu melaporkan perjalananku dengan beliau. Begitu seterusnya. Dan kurasa ini jalan terbaik yang aku lalui selama menjadi mahasiswa. Merdeka dengan keinginanku sendiri. Mengerjakan skripsi dengan kehendak dan keinginanku sendiri ingin diselesaikan dengan bagaimana skripsi ini. 

Penelitian di sekolah selesai Jumat lalu. Rabu ini aku melaksanakan ujian komprehensif gelombang ketiga setelah aku mundur dari ujian di gelombang kedua. Semoga waktuku cukup. Skripsi bisa menyusul ujian di bulan depan. Aku yakin. Ujian bukan berarti selesai masa belajar, namun ada kesedihan ketika aku harus mengakhiri masa belajar di usia mahasiswa, posisi yang sangat strategis namun belum kujalani secara maksimal. Semoga lain waktu berpihak padaku dalam memanfaatkan posisi itu dengan persiapan yang lebih rapi. Semoga. Tuhan, jalanmu begitu indah.

2 komentar:

#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah