Yuslisul Pransiskasari
Mahasiswa semester 8 jurusan Tadris
Matematika FTIK IAIN Tulungagung yang sedang merampungkan skripsi
Setelah sekian lama tak mengidolakan
seorang guru di masa SMA, idola itu justru muncul di saat aku kuliah.
Perjalanan mengidolakan seseorang berawal dari keinginan melampaui
teman-temanku SMA, justru berdampak pada banyak hal. Aku mulai membuka diri, senang
belajar apapun, mulai membaca apapun, mulai membuka buku-buku yang pernah aku
beri salam perpisahan, mulai tersenyum memandang buku sejarah ketika aku pernah
berusaha menguburnya.
Tak hanya pikiranku yang terbuka, tapi
masih ada pintu yang tertutup untuk beberapa hal. Tapi bila kunilai sendiri
saat ini, masa itu sangat perlu. Masa dimana aku pernah melepas pergi buku
sejarah di SMA kelas
XI, saat aku gandrung ingin mempelajarinya di waktu yang
sangat singkat (satu kali tatap muka setiap satu minggu). Karena pelajaran
sejarah diantara pelajaran olahraga dan istirahat, tak jarang guru sejarahku
(Pak Shodiq) kadang memutuskan mengobrol bukan terkait materi yang disampaikan sebagai obrolan ringan.
Kelas XII aku mendapat guru sejarah yang gemar membaca (Pak Ahmad Zainal
Fachris). Beliau gila baca dan gila berpikir. Namun waktu belum berpihak
padaku. Aku tak begitu menikmati pertemuanku dengan beliau di kelas XII.
Pertemuan dalam kelas membuatku gusar. Ternyata aku tak cocok bertemu dengan
beliau dalam keadaan formal.
Saat kelas X aku mendamba bertemu dengan
beliau di kelas XI. Tapi jalan belum mempertemukanku dengan beliau di ruang
kelas. Jalan lain justru membuatku bersemangat karena beliau adalah salah satu
pembimbing di salah satu ekstra yang aku ikuti sejak aku masih duduk di bangku
kelas X. Beliau rajin mengunjungi anak didiknya di sarang, begitu kami
menyebutnya waktu itu. Aku bertemu banyak teman yang lebih gila mencurahkan
waktu demi sarang. Aku merasa beruntung saat itu.
Masa lalu tak hanya membawa luka, namun
seringkali tak menyadari kehadirannya sekaligus sebagai penyembuhan. Waktu
membredel ketakmampuan dalam diriku. Pertama, aku tak diijinkan kuliah di
jurusan Psikologi. Kedua, aku tak diijinkan kuliah di Jogja. Ketiga, ibu
menginginkanku kuliah di jurusan Bahasa Arab tanpa tahu kemampuanku. Keempat,
bapak menginginkanku untuk kuliah di daerah yang dekat-dekat saja. Usahaku
menginap di asrama UM Malang demi meloloskan diri dalam ajang kompetisi SNMPTN demi
keinginan sang ibunda, tidak berpihak padaku. Justru aku terdampar di daerah
kecil, daerah kelahiran bapakku, Tulungagung. Begitu indah perjalanan yang
Tuhan gariskan padaku. Melalui kota kecil ini aku mengenal saudara bapak,
menemukan berlian dalam jerami, mempertemukanku dengan orang-orang hebat,
melemparkanku untuk berpikir pelan-pelan.
STAIN Tulungagung. Aku diterima disini
bukan karena aku menginginkannya. Namun karena aku memilihnya. Ketiga pilihan
jurusan dalam ajang kompetisi SBMPTAIN waktu itu membawaku bertemu dengan guru
baru yang siap membawaku kemanapun kumau. Aku mulai berani bermimpi, aku mulai
berani menyebutnya idola baru. Semester awal menjadi pembuka jalan menuju sang
idola. Sebut saja pak Dr. Agus Zainul Fitri, M.Pd. Orang menyebut beliau
sebagai doktor termuda di kampus lulusan manajemen UIN Maliki Malang.
Perjalanan mengidolakan seseorang berhenti sampai disitu. Pertemuan dengan
beliau di semester tiga tak mampu menembus ukuranku dalam mengidolakan beliau
lagi. Beliau berubah dengan kemampuan perubahan yang belum kumiliki. Aku
menyerah mengidolakan seseorang. Aku berjalan lagi menemui orang-orang yang
sudi menampungku. PKFT lalu DIMeNSI. Rentang usia semester satu hingga dua
kuhabiskan dengan belajar di PKFT. Sisanya aku melanjutkan belajar di DIMeNSI.
Perjalanan berlalu makin membuatku gila
berpikir. Banyak hal melesat keluar dari dalam diriku, pikiranku hingga aku
kehabisan cara bagaimana mengajaknya berjalan perlahan. Keinginan belajar
banyak hal justru muncul ketika aku sedang mengerjakan skripsi. Aku mendapat
dosen pembimbing Pak Syaiful Hadi, M.Pd. Beliau mengajar statistik saat aku di
semeter dua, mengajar analisis real 1 dan 2 saat semester 4 dan 5.
Awalnya aku meragukan beliau dalam
membimbingku. Rentang waktu 5 bulan lebih berada dalam dampingan beliau, meski
secara jadwal aku jarang meminta bimbingan pada beliau namun perlahan aku
belajar, beliau sangat memahamiku. Aku dibiarkannya berjalan sendiri tanpa
kekang ini itu dari beliau karena aku memang menginginkan jalan seperti ini.
Aku suka berjalan sendiri lalu melaporkan perjalananku dengan beliau. Begitu
seterusnya. Dan kurasa ini jalan terbaik yang aku lalui selama menjadi
mahasiswa. Merdeka dengan keinginanku sendiri. Mengerjakan skripsi dengan
kehendak dan keinginanku sendiri ingin diselesaikan dengan bagaimana skripsi
ini.
Penelitian di sekolah selesai Jumat
lalu. Rabu ini aku melaksanakan ujian komprehensif gelombang ketiga setelah aku
mundur dari ujian di gelombang kedua. Semoga waktuku cukup. Skripsi bisa
menyusul ujian di bulan depan. Aku yakin. Ujian bukan berarti selesai masa
belajar, namun ada kesedihan ketika aku harus mengakhiri masa belajar di usia
mahasiswa, posisi yang sangat strategis namun belum kujalani secara maksimal.
Semoga lain waktu berpihak padaku dalam memanfaatkan posisi itu dengan
persiapan yang lebih rapi. Semoga. Tuhan, jalanmu begitu indah.
hai bisul :p
BalasHapusjalan-jalan dong ke blogku : www.teguhsantoso.net
ok mas, siap
Hapus