Sabtu, 11 Januari 2014

Tenang, Disini



            “Boleh ya, Buk?”tanyaku pada ibu meminta izin untuk ikut berlibur melepas lelah ke salah satu pantai di Tulungagung.
Di awal semester dua lalu aku mengikuti acara liburan yang diadakan oleh salah satu organisasi extra di kampus. Sebut saja acara itu dengan nama kampung pengetahuan. Ya, itu nama salah satu agenda acaranya kali ini dan sudah rutin berlangsung setiap tahunnya. Tujuan wisata kali ini pergi ke pantai Gerangan. Salah satu obyek wisata di Tulungagung, tempat aku menimba ilmu di sebuah kampus yang dinaungi logo Kemenag.

            Pantai. Ketika pertama mendengar namanya pikiranku berlayar menyusuri memori masa lalu saat masih duduk di bangku aliyah kelas dua. Bersama rombongan aliyah, angkatanku mengadakan studi kenal alam lingkungan yang familiar disebut SKAL. Ada dua tujuan saat itu yakni ke Bali dan Yogyakarta. Aku memilih pergi ke Yogyakarta karena belum pernah pergi kesana sekaligus menyaksikan bagaimana suasana di kota Pelajar yang banyak melahirkan seniman dari kota tersebut. Alasan lain yakni karena aku sudah pernah pergi ke Bali saat masih SMP.
            Segala persiapan telah aku lakukan. Masalah izin dari ibu sudah aku persiapkan jauh-jauh hari. Aku bersyukur sekali ibu mengizinkan keberangkatanku. Perjalanan dari rumah menuju lokasi berkumpul membutuhkan waktu normal satu jam. Namun aku sudah terbiasa tiba lebih awal yakni lima belas menit sebelumnya. Meski aku cewek tidak berarti aku suka mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Entah mengapa jika berada di atas motor rasanya sudah seperti pembalap. Bak Valentino Rossi pembalap ternama. Perjalananku menuju pantai sebagai obyek kampung pengetahuan ini cukup menarik. Bagaimana tidak? Bergumul dengan orang-orang yang belum kukenal adalah alasan yang menguatkanku untuk memutuskan akan ikut kegiatan ini atau tidak. Berharap mendapatkan suntikan pengalaman yang berbeda dan lain dari yang kuketahui.
            “Semua sudah siap? Sekarang ada dua pilihan. Bagi yang ingin mengendarai motor silahkan mencari pasangan dan bagi yang menginginkan naik mobil silahkan bergabung dengan pick up.”
            “What? Oh, my God. Mimpi apa semalam. Naik pick up? Nggak. Untung aja aku bawa motor. Itung-itung bisa naik motor sambil mengenal  jalanan di sepanjang Tulungagung bagian selatan,”batinku sambil melongo.
            “Kenapa, Yus. Ayo naik pick up [1].”
            “Saya bawa motor kok, Mas,”jawabku menyelamatkan diri dari naik pick up. Prok prok prok. Bukan apa-apa aku menolak naik pick up. Tapi memilih naik motor untuk lebih menikmati suasana dan kondisi yang dilalui.
“Mana kuncinya?”seorang cowok paruh baya meminta kunci motorku tiba-tiba.
            “Hey, siapa kamu. Ini motorku. Sopan dikit dong.”
            “Kalau nggak mau dibonceng ya sudah,”jawabnya singkat sembari mengembalikan kunci motorku.       
            “Hemb, tapi ada benernya juga nih kalau aku diboncengin sama cowok. Selain lebih lihai naiknya, pasti lebih bisa ngantisipasi kalau jalanan lagi gaswat alias terjal gitu.”
            “Woy, Mas yang pake baju abu-abu. Aku mau kok.”
            Dia menoleh sambil menengadahkan tangannya. “Ha? Langsung minta kenalan? Gila banget nih orang, baru juga dapet izin boncengin gue dah ngajakin kenalan. Huh. Dasar nggak modal,”batinku.
            “Yusandi,”jawabku.     
            “Aku cuma mau minta kunci motor kamu kok. Mana?”
            “Sialan nih orang. Meledek atau ngapain sih. Udah berani mempermalukan aku di hadapan umum. Gila. Malu banget. Sumpah. Liat saja nanti. Bakalan ada balasan buat kamu.”
            Di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan satu kata pun. Aku cuma asyik menikmati pemandangan yang ada di sepanjang jalan. Selebihnya aku menyibukkan diri di atas motor dengan merekam perjalanan asyik ini. Jalannya naik turun. Namun tiba-tiba motor yang ada di depanku berhenti. Motorku pun mengikutinya.        
            Bro[2], ngapain kita berhenti disini?”
            “Kita mau mampir ke rumah sesepuh dulu. Sekalian silaturrahmi. Kamu langsung ikuti mereka aja. Aku mau beli bensin dulu.”
            “Uw, iya Mas. Beliin bensin sekalian aja. Ntar takutnya habis di tengah jalan nggak ada pom bensin,”kataku tiba-tiba.
            “Bensinnya masih kok,”jawab Mas itu enteng.
            “Sialan nih orang. Enteng banget ngomongnya. Awas aja kalau motor gue mogok gara-gara kehabisan bensin.”
* * *
            Sesampainya di lokasi kami memutuskan untuk menunaikan sholat dzuhur dahulu. Di sebelahku ada teman yang lain. Baru tiga motor yang sampai disini. Selebihnya masih perjalanan karena masih terjebak oleh jalan terjal bagi yang naik pick up. Jalannya cukup menanjak naik turun. Sempet membuatku takut akan rusaknya motor akibat termakan jalanan terjal dan berlubang. Sungguh ironis. Janji infrastruktur itu belum sepenuhnya direalisasikan. Buktinya di sepanjang perjalanan menuju ke pantai, sebuah tempat wisata yang menjanjikan perekonomian daerah saja pembenahannya diabaikan. Indonesia. Tanah airku tercinta.
            “Woaow, sejuk banget udara disini ya. Baru pertama kali saya berada di pantai yang jauh dari bising kendaraan. Tenang oleh nyanyian alam serta teriakan ombak yang bergelut dengan sajian angin kehidupan. Duh indahnya.”
            “Ini pantai masih bersih banget ya. Sepi pula. Apa pantai ini tidak banyak mengundang masyarakat untuk sekedar menikmati keasriannya?”tanyaku penasaran.
            “Entahlah. Sepertinya pantai ini masih jauh dari sentuhan pemerintah. Buktinya ketenangannya masih bisa dirasakan. Nyaman berada disini. Sungguh daerah yang elok jika digunakan untuk menghabiskan masa tua,”kata mbak Indri mengkhayal.
            “Ah, kamu. Ada-ada aja. Eh, ngomong-ngomong yang lain pada kemana?”tanya Salwa.
            “Mereka masih bantuin temen-temen yang di atas belum bisa turun. Kan pick up nggak bakal bisa masuk kesini. Jadi harus dijemput.”
            “Eh, bentar-bentar. Kamu manggil Hendra dengan embel-embel mas? Nggak salah denger ya? Hello…”
            “Nggak, mbak. Kalau di panggil mbak jadi cewek dong kayak kita. Hehehe,, Atau jangan-jangan dia ngondek[3] ya, mbak?”
            “Hush, kamu ini apa-apaan sih. Hendra itu seangkatan sama kamu. Jadi panggilnya ya biasa aja.”
            Setelah Mbak Dona mengatakan bahwa Hendra itu ternyata seangkatanku, seketika aku melongo. “Masak iya?” Setelah semua barang-barang dan misi penjemputan usai, ada waktu untuk melepas lelah. Para lelaki sedang menikmati jamuan istirahat di musholla setengah jadi di wilayah ini. Ketika mereka asyik beristirahat, kami para perempuan menyiapkan ruangan khusus perempuan sebagai penginapan selama tinggal disini. Akan memakan waktu tiga hari dua malam berada disini. Kegiatan saat ini masih frre. Bebas dari aturan kegiatan. Bukan berarti tidak ada aturan. Hanya saja aturan ini dibuat flexible agar tidak ada pihak yang merasa dipaksakan dan memaksakan. Ini uniknya.   
Pengalaman selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah pada saat mengambil keputusan untuk mandi. Aku terkejut ketika mendapati temanku Salwa berkata dia tidak ingin mandi. Perkiraanku karena dia tidak terbiasa dengan lingkungan kumuh seperti kala itu. Ya kubilang kumuh karena perkampungan nelayan yang mendominasi disini. Aku masih berada dalam perdebatan otak antara mandi dan tidak. Bagiku tidak mandi juga tidak masalah karena aku terbiasa tidak mandi berhari-hari karena tuntutan jadwal kegiatan yang padat. Ups, sok sibuk neh. Bukan. Karena dulu sebelum jadi mahasiswa aku adalah penggila insan kambil[4] yang rela berpanas-panasan dan berkeringat tebal akibat tidak mandi demi sebuah loyalitas dan totalitas kegiatan. Semua waktu tenaga dan pikiran dikerahkan demi terlaksananya jadwal kegiatan dan hasil yang maksimal. Jadi tak jarang kalau wajahku mulai gosong akibat tidak ada perawatan khusus.
            Namun, dugaanku meleset. Ternyata ketika aku melihat dengan mata kepalaku, tempat mandi disini memang kurang layak. Hanya bermodalkan kayu sebagai pengganti tembok yang disusun sedemikian rupa. Banyak sisi berlubang disana sini dan tak memakai tutup pada bagian atapnya. Oh Allah, berkelebat bayangan yang sudah bergiliran masuk otak untuk menciutkan nyali mandi kali ini. Akhirnya aku berniat untuk tidak mandi dalam tiga hari ke depan. Cukup membersihkan kaki, tangan dan wajah dengan menggunakan sabun Insyaallah sudah cukup. Bukan apa-apa, hanya saja aku takut hal-hal ini itu akan terjadi.
* * *
            Matahari menenggelamkan dirinya. Pertanda malam telah tiba. Suasana di kampung pengetahuan mulai menunjukkan perbedaan. Ramai oleh suara hewan-hewan peliharaan. Anak-anakpun mulai terdengar riuh ketika seorang penjual makanan kecil yang lebih dikenal dengan nama ‘pentol’ itu datang. Penjual itu mulai ramai dikerumuni oleh pembeli. Beberapa orang dari rombongan kami juga ikut meramaikan. Tak berselang mereka juga mengumbar percakapan.
            Suasana di kampung ini semakin nampak ketika pembukaan kegiatan berlangsung yang diteruskan dengan diskusi dengan pembicara dari salah satu sesepuh dari angkatan jauh di atasku. Lampu neon yang memberi pencahayaan cukup tergantikan oleh lampu yang disokong energinya oleh aki. Entah apa namanya. Ini yang unik lagi. Mereka tidak sepenuhnya menggunakan listrik. Buktinya jalanan di sekitar kampung ini gelap. Gelap sekali. Tak nampak cahaya selain yang ada di rumah-rumah penduduk.
Listrik terasa mahal. Dia didapatkan dengan hanya memanfaatkan cahaya matahari yang disimpan untuk memberi pencahayaan yang sementara. Tak ada TV yang menyala meskipun mereka punya, tak ada makanan yang disimpan di dalam freezer kulkas, tidak ada playstation untuk sekedar memanjakan anak-anak. Pukul delapan setelah sholat isya umumnya masyarakat menggunakan waktunya untuk tidur. Sungguh kampung yang tak pernah terbayangkan keadaannya. Ditengah hiruk pikuk masalah yang melanda Negri ini hingga pemerintah semakin dibuat kelimpungan, namun disini masih saja ada kondisi yang butuh uluran pemerintah. Listrik. Aku belajar menghargaimu.
Ketika sesi diskusi dimulai. Pikiranku tak sepenuhnya berada pada topik yang sedang dibahas. Melainkan aku masih berpikir tentang kampung ini. Kampung yang membuat tercekik oleh kondisinya. Kampung yang membuatku jatuh hati untuk berlama-lama disini. Kampung yang jauh dari keramaian namun meramaikan hati yang sepi. Aku terus bertanya-tanya mengenai listrik. Bagiku ini permasalahan serius. Sama halnya seperti bahasan diskusi saat ini. Seorang senior menghentikan pikiran nakalku ketika dia angkat bicara.
Kalimat yang disusunnya sempat menghentakku. Mampir di benakku, lama. Renunganku berlari pada kondisi saat ini. Kampung ini butuh penerangan. Ya. Penerangan tidak seharusnya terpusat dan hanya diletakkan ditempat yang gelap. Namun penerangan harus diletakkan di tempat yang pas. Agar semua dapat merasakan hadirnya cahaya lampu. Sama halnya dengan kondisi disini. Oh, imajinasku tak mau berhenti. Dia pergi membayangkan jika saja di daerah ini dibangun PLTO.  Tapi mahal biaya pembangunan PLTO telah memangkas mimpiku, bahkan mimpi masyarakat yang ada di disini.
Pagi menjelang menjemput kelelahan di perjalanan kemarin. Sejuk dan alami kurasakan disini. Menyisir di sepanjang pantai dan menjemput buliran-buliran jarum di tengah jerami yang tak banyak berarti bagi banyak orang. Namun berarti bagiku. Deburan ombak di pantai ini menimbulkan gemuruh yang menghentak. Keras seakan menandakan jeritan masyarakat disini. Pikiranku kembali berlayar pada peristiwa yang sudah terjadi disini. Beberapa nelayan sudah meminggirkan perahunya untuk menghitung hasil yang telah diperoleh.
Imajinasiku berlari kesana kemari. Merasakan hidup berada di tengah-tengah masyarakat yang seperti ini. Kubidik salah satu acara TV sebut saja Indonesiaku. Memaparkan apa yang terjadi disini sambil mewawancarai salah satu dari masyarakat dan berhadapan dengan sebuah kamera yang tersambung ke stasiun TV di tiap kota di seluruh penjuru Indonesia. Mengabarkan apa yang ada disini. Kehidupan seorang nelayan yang hanya meyandarkan hidup dari hasil perolehan ikan. Peruntungan yang tidak selalu berpihak. Jika rizki berpihak pengepul siap menerima. Namun jika tidak perolehan cukup untuk lauk pauk keluarga. Pikiranku terus bergejolak. Ini pelajaran berharga. Sangat berharga.


[1] Mobil sejenis truk yang ukurannya lebih kecil.
[2] Julukan akrab sesama pria
[3] Laki-laki yang sifatnya menyerupai perempuan
[4] Istilah lain di kampusku yang ditujukan pada ukm pramuka yang identik dengan tunas kelapa.

1 komentar:

  1. teruslah menulis yus, aku pasti baca kalau ada banyak waktu senggang,, :)

    BalasHapus

#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah