“Boleh ya,
Buk?”tanyaku pada ibu meminta izin untuk ikut berlibur melepas lelah ke salah
satu pantai di Tulungagung.
Di awal semester dua lalu aku mengikuti acara liburan yang diadakan
oleh salah satu organisasi extra di kampus. Sebut saja acara itu dengan nama
kampung pengetahuan. Ya, itu nama salah satu agenda acaranya kali ini dan sudah
rutin berlangsung setiap tahunnya. Tujuan wisata kali ini pergi ke pantai
Gerangan. Salah satu obyek wisata di Tulungagung, tempat aku menimba ilmu di
sebuah kampus yang dinaungi logo Kemenag.
Pantai. Ketika
pertama mendengar namanya pikiranku berlayar menyusuri memori masa lalu saat
masih duduk di bangku aliyah kelas dua. Bersama rombongan aliyah, angkatanku
mengadakan studi kenal alam lingkungan yang familiar disebut SKAL. Ada dua
tujuan saat itu yakni ke Bali dan Yogyakarta. Aku memilih pergi ke Yogyakarta
karena belum pernah pergi kesana sekaligus menyaksikan bagaimana suasana di
kota Pelajar yang banyak melahirkan seniman dari kota tersebut. Alasan lain
yakni karena aku sudah pernah pergi ke Bali saat masih SMP.
Segala persiapan
telah aku lakukan. Masalah izin dari ibu sudah aku persiapkan jauh-jauh hari.
Aku bersyukur sekali ibu mengizinkan keberangkatanku. Perjalanan dari rumah
menuju lokasi berkumpul membutuhkan waktu normal satu jam. Namun aku sudah
terbiasa tiba lebih awal yakni lima belas menit sebelumnya. Meski aku cewek
tidak berarti aku suka mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Entah mengapa
jika berada di atas motor rasanya sudah seperti pembalap. Bak Valentino Rossi
pembalap ternama. Perjalananku menuju pantai sebagai obyek kampung pengetahuan
ini cukup menarik. Bagaimana tidak? Bergumul dengan orang-orang yang belum
kukenal adalah alasan yang menguatkanku untuk memutuskan akan ikut kegiatan ini
atau tidak. Berharap mendapatkan suntikan pengalaman yang berbeda dan lain dari
yang kuketahui.
“Semua sudah siap?
Sekarang ada dua pilihan. Bagi yang ingin mengendarai motor silahkan mencari
pasangan dan bagi yang menginginkan naik mobil silahkan bergabung dengan pick
up.”
“What? Oh, my God.
Mimpi apa semalam. Naik pick up? Nggak. Untung aja aku bawa motor. Itung-itung
bisa naik motor sambil mengenal jalanan
di sepanjang Tulungagung bagian selatan,”batinku
sambil melongo.
“Kenapa, Yus. Ayo
naik pick up [1].”
“Saya bawa motor
kok, Mas,”jawabku menyelamatkan diri dari naik pick up. Prok prok prok.
Bukan apa-apa aku menolak naik pick up. Tapi memilih naik motor untuk
lebih menikmati suasana dan kondisi yang dilalui.
“Mana kuncinya?”seorang cowok paruh baya meminta kunci motorku
tiba-tiba.
“Hey, siapa kamu.
Ini motorku. Sopan dikit dong.”
“Kalau nggak mau
dibonceng ya sudah,”jawabnya singkat sembari mengembalikan kunci motorku.
“Hemb, tapi ada
benernya juga nih kalau aku diboncengin sama cowok. Selain lebih lihai naiknya,
pasti lebih bisa ngantisipasi kalau jalanan lagi gaswat alias terjal gitu.”
“Woy, Mas yang pake baju abu-abu. Aku mau kok.”
Dia menoleh sambil
menengadahkan tangannya. “Ha? Langsung minta kenalan? Gila banget nih orang,
baru juga dapet izin boncengin gue dah ngajakin kenalan. Huh. Dasar nggak
modal,”batinku.
“Yusandi,”jawabku.
“Aku cuma mau
minta kunci motor kamu kok. Mana?”
“Sialan nih orang.
Meledek atau ngapain sih. Udah berani mempermalukan aku di hadapan umum. Gila.
Malu banget. Sumpah. Liat saja nanti. Bakalan ada balasan buat kamu.”
Di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan satu kata pun. Aku
cuma asyik menikmati pemandangan yang ada di sepanjang jalan. Selebihnya aku
menyibukkan diri di atas motor dengan merekam perjalanan asyik ini. Jalannya
naik turun. Namun tiba-tiba motor yang ada di depanku berhenti. Motorku pun
mengikutinya.
“Bro[2],
ngapain kita berhenti disini?”
“Kita mau mampir
ke rumah sesepuh dulu. Sekalian silaturrahmi. Kamu langsung ikuti mereka aja.
Aku mau beli bensin dulu.”
“Uw, iya Mas.
Beliin bensin sekalian aja. Ntar takutnya habis di tengah jalan nggak ada pom
bensin,”kataku tiba-tiba.
“Bensinnya masih
kok,”jawab Mas itu enteng.
“Sialan nih
orang. Enteng banget ngomongnya. Awas aja kalau motor gue mogok gara-gara
kehabisan bensin.”
* * *
Sesampainya di
lokasi kami memutuskan untuk menunaikan sholat dzuhur dahulu. Di sebelahku ada
teman yang lain. Baru tiga motor yang sampai disini. Selebihnya masih
perjalanan karena masih terjebak oleh jalan terjal bagi yang naik pick up.
Jalannya cukup menanjak naik turun. Sempet membuatku takut akan rusaknya motor
akibat termakan jalanan terjal dan berlubang. Sungguh ironis. Janji
infrastruktur itu belum sepenuhnya direalisasikan. Buktinya di sepanjang
perjalanan menuju ke pantai, sebuah tempat wisata yang menjanjikan perekonomian
daerah saja pembenahannya diabaikan. Indonesia. Tanah airku tercinta.
“Woaow, sejuk
banget udara disini ya. Baru pertama kali saya berada di pantai yang jauh dari
bising kendaraan. Tenang oleh nyanyian alam serta teriakan ombak yang bergelut
dengan sajian angin kehidupan. Duh indahnya.”
“Ini pantai masih
bersih banget ya. Sepi pula. Apa pantai ini tidak banyak mengundang masyarakat
untuk sekedar menikmati keasriannya?”tanyaku penasaran.
“Entahlah.
Sepertinya pantai ini masih jauh dari sentuhan pemerintah. Buktinya
ketenangannya masih bisa dirasakan. Nyaman berada disini. Sungguh daerah yang
elok jika digunakan untuk menghabiskan masa tua,”kata mbak Indri mengkhayal.
“Ah, kamu. Ada-ada
aja. Eh, ngomong-ngomong yang lain pada kemana?”tanya Salwa.
“Mereka masih
bantuin temen-temen yang di atas belum bisa turun. Kan pick up nggak
bakal bisa masuk kesini. Jadi harus dijemput.”
“Eh,
bentar-bentar. Kamu manggil Hendra dengan embel-embel mas? Nggak salah
denger ya? Hello…”
“Nggak, mbak.
Kalau di panggil mbak jadi cewek dong kayak kita. Hehehe,, Atau jangan-jangan
dia ngondek[3]
ya, mbak?”
“Hush, kamu ini
apa-apaan sih. Hendra itu seangkatan sama kamu. Jadi panggilnya ya biasa aja.”
Setelah Mbak Dona
mengatakan bahwa Hendra itu ternyata seangkatanku, seketika aku melongo.
“Masak iya?” Setelah semua barang-barang dan misi penjemputan usai, ada
waktu untuk melepas lelah. Para lelaki sedang menikmati jamuan istirahat di
musholla setengah jadi di wilayah ini. Ketika mereka asyik beristirahat, kami
para perempuan menyiapkan ruangan khusus perempuan sebagai penginapan selama
tinggal disini. Akan memakan waktu tiga hari dua malam berada disini. Kegiatan
saat ini masih frre. Bebas dari aturan kegiatan. Bukan berarti tidak ada
aturan. Hanya saja aturan ini dibuat flexible agar tidak ada pihak yang
merasa dipaksakan dan memaksakan. Ini uniknya.
Pengalaman selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah pada saat
mengambil keputusan untuk mandi. Aku terkejut ketika mendapati temanku Salwa
berkata dia tidak ingin mandi. Perkiraanku karena dia tidak terbiasa dengan
lingkungan kumuh seperti kala itu. Ya kubilang kumuh karena perkampungan
nelayan yang mendominasi disini. Aku masih berada dalam perdebatan otak antara
mandi dan tidak. Bagiku tidak mandi juga tidak masalah karena aku terbiasa
tidak mandi berhari-hari karena tuntutan jadwal kegiatan yang padat. Ups, sok
sibuk neh. Bukan. Karena dulu sebelum jadi mahasiswa aku adalah penggila insan
kambil[4]
yang rela berpanas-panasan dan berkeringat tebal akibat tidak mandi demi
sebuah loyalitas dan totalitas kegiatan. Semua waktu tenaga dan pikiran
dikerahkan demi terlaksananya jadwal kegiatan dan hasil yang maksimal. Jadi tak
jarang kalau wajahku mulai gosong akibat tidak ada perawatan khusus.
Namun, dugaanku
meleset. Ternyata ketika aku melihat dengan mata kepalaku, tempat mandi disini
memang kurang layak. Hanya bermodalkan kayu sebagai pengganti tembok yang disusun
sedemikian rupa. Banyak sisi berlubang disana sini dan tak memakai tutup pada
bagian atapnya. Oh Allah, berkelebat bayangan yang sudah bergiliran masuk otak
untuk menciutkan nyali mandi kali ini. Akhirnya aku berniat untuk tidak mandi
dalam tiga hari ke depan. Cukup membersihkan kaki, tangan dan wajah dengan
menggunakan sabun Insyaallah sudah cukup. Bukan apa-apa, hanya saja aku takut
hal-hal ini itu akan terjadi.
* * *
Matahari
menenggelamkan dirinya. Pertanda malam telah tiba. Suasana di kampung
pengetahuan mulai menunjukkan perbedaan. Ramai oleh suara hewan-hewan
peliharaan. Anak-anakpun mulai terdengar riuh ketika seorang penjual makanan
kecil yang lebih dikenal dengan nama ‘pentol’ itu datang. Penjual itu mulai
ramai dikerumuni oleh pembeli. Beberapa orang dari rombongan kami juga ikut
meramaikan. Tak berselang mereka juga mengumbar percakapan.
Suasana di kampung
ini semakin nampak ketika pembukaan kegiatan berlangsung yang diteruskan dengan
diskusi dengan pembicara dari salah satu sesepuh dari angkatan jauh di atasku.
Lampu neon yang memberi pencahayaan cukup tergantikan oleh lampu yang disokong
energinya oleh aki. Entah apa namanya. Ini yang unik lagi. Mereka tidak
sepenuhnya menggunakan listrik. Buktinya jalanan di sekitar kampung ini gelap.
Gelap sekali. Tak nampak cahaya selain yang ada di rumah-rumah penduduk.
Listrik terasa mahal. Dia didapatkan dengan hanya memanfaatkan
cahaya matahari yang disimpan untuk memberi pencahayaan yang sementara. Tak ada
TV yang menyala meskipun mereka punya, tak ada makanan yang disimpan di dalam freezer
kulkas, tidak ada playstation untuk sekedar memanjakan anak-anak.
Pukul delapan setelah sholat isya umumnya masyarakat menggunakan waktunya untuk
tidur. Sungguh kampung yang tak pernah terbayangkan keadaannya. Ditengah hiruk
pikuk masalah yang melanda Negri ini hingga pemerintah semakin dibuat
kelimpungan, namun disini masih saja ada kondisi yang butuh uluran pemerintah.
Listrik. Aku belajar menghargaimu.
Ketika sesi diskusi dimulai. Pikiranku tak sepenuhnya berada pada
topik yang sedang dibahas. Melainkan aku masih berpikir tentang kampung ini.
Kampung yang membuat tercekik oleh kondisinya. Kampung yang membuatku jatuh
hati untuk berlama-lama disini. Kampung yang jauh dari keramaian namun
meramaikan hati yang sepi. Aku terus bertanya-tanya mengenai listrik. Bagiku
ini permasalahan serius. Sama halnya seperti bahasan diskusi saat ini. Seorang
senior menghentikan pikiran nakalku ketika dia angkat bicara.
Kalimat yang disusunnya sempat menghentakku. Mampir di benakku,
lama. Renunganku berlari pada kondisi saat ini. Kampung ini butuh penerangan.
Ya. Penerangan tidak seharusnya terpusat dan hanya diletakkan ditempat yang
gelap. Namun penerangan harus diletakkan di tempat yang pas. Agar semua dapat
merasakan hadirnya cahaya lampu. Sama halnya dengan kondisi disini. Oh, imajinasku
tak mau berhenti. Dia pergi membayangkan jika saja di daerah ini dibangun
PLTO. Tapi mahal biaya pembangunan PLTO
telah memangkas mimpiku, bahkan mimpi masyarakat yang ada di disini.
Pagi menjelang menjemput kelelahan di perjalanan kemarin. Sejuk dan
alami kurasakan disini. Menyisir di sepanjang pantai dan menjemput
buliran-buliran jarum di tengah jerami yang tak banyak berarti bagi
banyak orang. Namun berarti bagiku. Deburan ombak di pantai ini menimbulkan
gemuruh yang menghentak. Keras seakan menandakan jeritan masyarakat disini.
Pikiranku kembali berlayar pada peristiwa yang sudah terjadi disini. Beberapa
nelayan sudah meminggirkan perahunya untuk menghitung hasil yang telah
diperoleh.
Imajinasiku berlari kesana kemari. Merasakan hidup berada di
tengah-tengah masyarakat yang seperti ini. Kubidik salah satu acara TV sebut
saja Indonesiaku. Memaparkan apa yang terjadi disini sambil mewawancarai salah
satu dari masyarakat dan berhadapan dengan sebuah kamera yang tersambung ke
stasiun TV di tiap kota di seluruh penjuru Indonesia. Mengabarkan apa yang ada
disini. Kehidupan seorang nelayan yang hanya meyandarkan hidup dari hasil
perolehan ikan. Peruntungan yang tidak selalu berpihak. Jika rizki berpihak
pengepul siap menerima. Namun jika tidak perolehan cukup untuk lauk pauk
keluarga. Pikiranku terus bergejolak. Ini pelajaran berharga. Sangat berharga.
teruslah menulis yus, aku pasti baca kalau ada banyak waktu senggang,, :)
BalasHapus