Senin, 07 April 2014

Jurnalis berkisah Sastra


Oleh: Yuslisul Pransiskasari

Mendapati buku keluaran lama berperasaan berbeda. Ada hal tak terungkapkan manakala menyentuh, terlibat dalam bayangan masa lalu dalam ingatan yang tak karuan, campur aduk bahkan tak tertata. Menghadirkan diri dalam menikmati buku bukan lagi sebuah kebimbangan. Adalah seikat kepercayaan bahwa diri mampu membawa pengaruh dalam berikhtiar menyelesaikan buku. Usai selesai bentuk lega datang tak sembunyi-sembunyi. Menyapa dan bergabung menjadi diri yang berani.  

Keberanian bermula. Tercipta keinginan. Keinginan untuk memiliki buku berlatar lawas. Buku berlatar lawas tak pernah mendiami toko buku. Gramedia, Togamas, dan sejenisnya menawarkan buku baru berkelas best seller. Buku lawas ada tapi tak berjeda lama. Tak terjamah, berdebu, tanpa plastik dan bernoda.
Terpinggirkan. Tak seorangpun yang mau membawa pulang. Berdalih kemasan, bersih dan tidak bernoda. Manusia tak pernah mencapai kepuasan. 

Manusia abad XIX awal memotret kehidupan lewat kata. Mas Marco Kartodikromo menjadi santapan hangat untuk diperbincangkan. Kehadiran dirinya memberi warna kasusastraan Indonesia. Turut diapresiasi dalam buah karya berbentuk novel: Student Hidjo. Mas Marco sudah membuktikan bentuk rajutan kata dalam racikan novel. Melibatkan keinginan berbudi luhur layaknya bangsa berperadaban, berbudaya. Mendatangkan sosok Belanda dalam novel. Memberi virus gratis berpengharapan menyemai latar Indo-Belanda semasa menginjak usia dewasa. 
comot dari rumah mbah google.com
Mas Marco seorang jurnalis. Turun lapangan mengais data, merangkum fakta dalam berita. Menyiarkan kondisi zaman. Ritual bermain data tak lantas membuat Mas Marco jengah. Kelahiran novel membuktikan bahwa bukan perkara berita saja yang menjadi urusan. Menjamah ratusan paragraf dalam beribu kata. Bermain data dalam gubahan puisi serta kalimat menggoda. Ah tidak. 

Imajinasi Mas Marco tergambar dalam narasi novel berporsi minim. Obrolan diletakkan pada tiap bagian. Mengisahkan remaja menginjak dewasa di zamannya. Salah satu bentuk perjuangan. Perjuangan berketetapan menjadi bukti ketundukan pada sebuah pembacaan. Pembacaan berkendara zaman. Jerih payahnya tak berlalu sia-sia. Pram mengagumi Mas Marco Kartodikromo. Mas Marco pernah menjadi bagian dari tulisan Pram. 

Pram tidak hanya berkisah tentang Mas Marco. R.M. Tirto Adhi Soerjo pernah meletakkan diri dalam deretan tulisan Pram berjudul Sang Pemula. Tulisannya atas R.M. Tirto Adhi Soerjo mempertemukan Mas Marco dengan gurunya dalam buku yang terbit tahun 1985 dengan kesediaan dari penerbit Hasta Mitra. Mas Marcopun mengakui kekagumannya terhadap R.M. Tirto Adhi Soerjo. Menaruh simpati pada sang guru. Menjepret diri guru dalam tulisan berjudul Mangkat. “Djaman sekarang, banjak sekali Journalist jang gagah brani, tetapi moedah didjebak, sedang Journalist jang tjerdik kebranian koerang. Tidak begitoe toean Tirto, doea doeanya boleh ditiroe.” Satu judul untuk sang guru. Mas Marco Kartodikromo untuk R.M Tirto Adhi Soerjo. 
Comot dari rumah mbah google.com
Pram menegaskan kedua tokoh yang diabadikan  mampu merenggut perhatian zaman dalam sastra. Novel menjadi bukti pengisahan atas zaman. Berlatar jurnalis tak lantas menjadi penghalang untuk tak mampu bercumbu dengan susunan kata merayu, mendayu. Tak melulu persoalan carut marut negri berbau dominasi, kekerasan, peminggiran, pengacuhan, pelabelan, bungkam pada uang. Membahas percintaan, keinginan-kekuatan diri, kesopanan, budaya, ketentraman merangkum zaman pada catatan. Bahwa materi tak berarti apa-apa tanpa non-materi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah