Oleh: Yuslisul Pransiskasari
Mendapati buku keluaran lama berperasaan berbeda. Ada hal tak
terungkapkan manakala menyentuh, terlibat dalam bayangan masa lalu dalam
ingatan yang tak karuan, campur aduk bahkan tak tertata. Menghadirkan diri
dalam menikmati buku bukan lagi sebuah kebimbangan. Adalah seikat kepercayaan
bahwa diri mampu membawa pengaruh dalam berikhtiar menyelesaikan buku. Usai
selesai bentuk lega datang tak sembunyi-sembunyi. Menyapa dan bergabung menjadi
diri yang berani.
Keberanian bermula. Tercipta keinginan. Keinginan untuk memiliki buku
berlatar lawas. Buku berlatar lawas tak pernah mendiami toko buku. Gramedia, Togamas,
dan sejenisnya menawarkan buku baru berkelas best seller. Buku lawas ada tapi
tak berjeda lama. Tak terjamah, berdebu, tanpa plastik dan bernoda.
Terpinggirkan. Tak seorangpun yang mau membawa pulang. Berdalih kemasan, bersih dan tidak bernoda. Manusia tak pernah mencapai kepuasan.
Terpinggirkan. Tak seorangpun yang mau membawa pulang. Berdalih kemasan, bersih dan tidak bernoda. Manusia tak pernah mencapai kepuasan.
Manusia abad XIX awal memotret kehidupan lewat
kata. Mas Marco
Kartodikromo menjadi santapan hangat untuk diperbincangkan. Kehadiran dirinya
memberi warna
kasusastraan Indonesia. Turut diapresiasi dalam buah karya berbentuk novel: Student Hidjo. Mas Marco sudah membuktikan
bentuk rajutan
kata dalam racikan
novel. Melibatkan keinginan berbudi
luhur layaknya bangsa berperadaban, berbudaya. Mendatangkan sosok Belanda dalam novel.
Memberi virus gratis berpengharapan menyemai latar Indo-Belanda semasa menginjak usia dewasa.
Mas Marco seorang jurnalis. Turun lapangan mengais data, merangkum fakta
dalam berita. Menyiarkan kondisi zaman. Ritual bermain data tak lantas membuat
Mas Marco jengah. Kelahiran novel membuktikan bahwa bukan perkara berita saja yang menjadi
urusan. Menjamah ratusan paragraf dalam beribu kata. Bermain data
dalam gubahan puisi serta kalimat menggoda. Ah tidak.
Imajinasi Mas Marco tergambar dalam narasi
novel berporsi minim. Obrolan diletakkan pada tiap bagian. Mengisahkan remaja menginjak
dewasa di zamannya. Salah satu bentuk perjuangan. Perjuangan
berketetapan menjadi bukti ketundukan pada sebuah pembacaan. Pembacaan
berkendara zaman. Jerih payahnya tak berlalu sia-sia. Pram mengagumi Mas Marco Kartodikromo. Mas Marco
pernah menjadi bagian dari tulisan Pram.
Pram tidak hanya berkisah tentang Mas Marco. R.M. Tirto Adhi
Soerjo pernah
meletakkan diri dalam deretan tulisan Pram berjudul Sang Pemula. Tulisannya atas
R.M. Tirto Adhi Soerjo mempertemukan Mas Marco dengan gurunya dalam buku yang
terbit tahun 1985 dengan kesediaan dari penerbit Hasta Mitra. Mas Marcopun
mengakui kekagumannya terhadap R.M. Tirto Adhi Soerjo. Menaruh simpati pada
sang guru. Menjepret diri guru dalam tulisan berjudul Mangkat. “Djaman sekarang,
banjak sekali Journalist jang gagah brani, tetapi moedah didjebak, sedang
Journalist jang tjerdik kebranian koerang. Tidak begitoe toean Tirto, doea
doeanya boleh ditiroe.” Satu judul untuk sang guru. Mas Marco Kartodikromo untuk
R.M Tirto Adhi Soerjo.
Pram menegaskan kedua tokoh yang diabadikan mampu merenggut perhatian zaman dalam sastra. Novel menjadi bukti pengisahan atas zaman.
Berlatar jurnalis tak lantas menjadi penghalang untuk tak mampu bercumbu dengan
susunan kata merayu, mendayu. Tak melulu persoalan carut marut negri berbau
dominasi, kekerasan, peminggiran, pengacuhan, pelabelan, bungkam pada uang. Membahas percintaan,
keinginan-kekuatan diri, kesopanan, budaya, ketentraman merangkum zaman pada catatan. Bahwa
materi tak berarti apa-apa tanpa non-materi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah