Kamis, 20 Maret 2014

Pustaka: Antara Candi dan Jen Shyu



Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Teriakan pagi membangunkan tidur sebelum subuh. Gedoran pintu tak terdengar oleh telinga yang ditulikan. Kami khilaf, Kaum abangan dari status santri dhuafa di bilik mulai terdengar berisik. Sedangkan kaum priyayi sedang menikmati penyebab lembur semalam, tidur. Satu persatu kaum priyayi membuka mata dan mengucek demi kejelasan pandangan. Lalu lalang santri bergiliran keluar masuk kamar mandi. Tertunduk menunggu sambil sesekali menggigil. Sisa desiran angin subuh mampir menyapa dalam pagi. 

Persiapan berantakan. Mandi ditanggalkan demi sebuah tujuan. Ikut mbah Prapto ke Ngayogyakarta.
Dengan sambutan istimewa pagi ini aku berangkat. Tujuanku ikut mbah Prapto teruji. Mengapa mbah Prapto perlu ke sana? Ada acara apa? Mbah Prapto mau tampil? Kugulirkan pertanyaan-pertanyaan bertujuan mengetahui informasi kegiatan. Pertanyaan diri.

Kurang dari dua jam perjalanan usai. Disudahi dengan memasukkan badan mobil penumpang ke mulut gedung. Di depan gedung ada ruang tunggu yang lebar. Beberapa memilih berdiri sembari menikmati penemuan Candi sejak 2009 silam. Sambutan spanduk berukuran sangat besar terpajang dengan dasaran warna biru. Memuat nama-nama pengisi dan asal daerah mereka. Ada salah satu nama tidak asing. Putu Wijaya. Setahuku dia penulis. Penulis cerpen. Ada keinginan untuk bertemu. Aku berpengharapan untuk berjumpa. Tapi sematan istilah ‘instalasi’ membuat ragu. 

Sambutan candi Kimpulan tak berlalu begitu saja. Candi menarik untuk dilihat. Melihat bagian dari mengindera. Tak kasat mata namun tak bermakna. Payah pikirku. Candi itu masih kokoh. Berabad-abad usianya terkubur dalam tanah. Terkuak dalam bangunan cerita nenek moyang. Tidak pada candi Kimpulan. 

Ditemukan karena tidak sengaja. Aneh. Seorang teman bertanya kepada mbah Prapto. Mbah Prapto berkisah. Pendengar berdatangan. Membentuk formasi lingkaran bolong. Mbah berdiri. Berjalan ke pagar besi dan berkisah lagi tentang Candi. Ketika pembangunan perpustakaan tidak sengaja ditemukan candi.

Pembangunan perpustakaan sempat menjadi polemik. Karena wilayah candi harus bersih dari bangunan paling tidak radius 100 m. Polemik pembangunan perpustakaanpun menjadi perdebatan panjang yang melibatkan pihak campus dengan budayawan. Namun setelah debat panjang berlangsung akhirnya izin diturunkan. Area perpustakaan dibangun mengitari candi dan menjadi pustaka yang menyenangkan. Indah. 

Candi bercerita. Candi berkata dalam diam. Diam, membiarkan serpihan kata berceceran. Tersusun perlahan membentuk kalimat dalam cerita. Dia hidup dan bercerita dalam diam. Aku belum kunjung mengerti. 

Penelusuran lebih lanjut perlahan menjawab ketidaktahuan. Memasuki area candi. Permukaan candi, kasar. Tinggi. Berkisar 150-160 cm. Jauh lebih tinggi dariku. Seorang bule menelungkupkan kedua tangannya di tempatku berdiri. Sepotong pertanyaan kulayangkan. “Apa yang kamu rasakan?” “Batu ini sangat indah. Luar biasa. Tidak ada benda seperti ini di Venezuela,”jawab perempuan bule bernama Estefania Pivano. Candi sering dilihat sebagai suatu hal yang biasa. Tapi Estefania mengaguminya. Candi, bukan persoalan mata telanjang. Tapi juga pelibatan rasa dalam memandang hingga proses memberi makna dihasilkan.

Setelah candi ada museum. Sebagai tempat penyimpanan barang temuan dalam candi maupun yang bukan. Ada peripih, mangkok perunggu, mesin hitung, komputer pertama, mesin stensil elektrik, mesin stensil manual, dan buku-buku lawas yang ditulis oleh beberapa tokoh terkemuka. Ada beberapa tumpukan benda bernama peripih yang tak terbungkus kaca. Berat. Dinding tembok dipenuhi oleh pigora bercerita proses penemuan candi, bagaimana serpihan itu dikeluarkan, menandai lantai candi sebelum digempur dan diisi dengan campuran pasir dan semen untuk meratakan permukaan lantai candi. Proses pengeluaran serpihan di area candi, pembersihan dilakukan dengan berhati-hati. Berkelebat kecurigaan datang silih berganti, Orang-orang terlibat dalam penemuan, proses pembersihan dan pembangunan mengantongi beberapa serpihan kecil yang didapatkan di area candi. Layaknya sebuah proyek. Pikiran nakal itu menuntut hak.

Lebih dari pukul sebelas rombongan menuju ruang diskusi. Berjajar tiga pembicara yang dirangkum dalam satu tema “Sarasehan-Perpustakaan sebagai Sumber Penciptaan Ilmu dan Kreativitas Seni”. Panitia mendatangkan tiga pembicaa dari berbagai daerah. Kris Budiman (Dosen UGM), Elisabeth D. Inandiak (Yogyakarta), Jen Shyu (Amerika). Kris Budiman meminta untuk menjadi pembicara yang pertama karena menyadari dia akan menyajikan materi dengan banyak uapan kantuk. Latar belakang institusi kampus memang tidak bisa disembunyikan, Pria penggila Albert Einstein meracuni presentasinya dengan pembukaan dan penutupan kata-kata dari tokoh idolanya. Membahas tentang kreativitas. Dia meyakini panggilan menulis berasal dari kebutuhan. Menulis adalah bentuk kegiatan manusia untuk melakukan hal-hal di luar yang fana. Pria berkacamata ini mengakhiri bahasannya dengan sunggingan senyuman.

Pembicara kedua diberikan kepada Elisabeth D. Inandiak sebagai penulis serat Centhini. Berbeda dengan Kris Budiman, Eli memberikan penjelasan materi dengan durasi waktu yang sebentar. Waktu sebentar itu tidak berarti bobot pengetahuan yang dikemas dalam materi remeh temeh. Eli memberikan pernyataan tentang perpustakaan pertama berasal dari akal budi dan daya ingat. Eli melakukan perjalanan asing ke dalam pelosok desa, bertanya, dan merekam, serta menulis untuk menceritakannya kembali. Eli mendasari menulis dengan membawa misi tugas dari seorang kekasih yang tersembunyi.

Perempuan cantik dan energik itu bernama Jen Shyu. Setelan baju tanpa lengan dengan rok model jepang menutupi tubuhnya. Dugaanku salah. Jen Shyu tidak fasih berbahasa Indonesia. Perempuan blesteran Timor Leste dan Taiwan ini berbicara sangat pelan. Eli membantunya. Jen Shyu berkisah tentang ibunya, seorang pustakawan. Ketakjubannya pada lima lukisan ditafsirkan lewat musik dalam pentas. Semangatnya menuai pembenaran. Jen Shyu berlari menunjukkan karyanya sambil sedikit memberi ocehan kata. Diakhir pembahasan Jen Shyu mempersembahkan karya. Memetik alat musik dari kayu dengan dua senar. Seperti rebab arab.

Jen Shyu mulai berulah dengan olah vokal. Jari-jari Jen Shyu lentik, petikan alat musiknya indah. Penuh emosi. Amarah, nestapa, pengharapan, hiburan semua tafsiran ada. Jen Shyu membawakan lagu dengan bahasa yang tak kumengerti. Ya. Aku memang tak dimengerti. Tapi racikan musiknya indah. Menggetarkan. Menyesakkan. Berpengharapan. Mengobrak abrik rasa diam. Suaranya meliuk-liuk, tarik ulur emosi mengejutkan. Aku memejamkan mata sebentar. Berkelebat peristiwa hadir melibatkan suasana dalam pengisahan cerita. Kisah kasik di masa kecil.

Candi dan Jen Shyu. Dua perpustakaan berbeda. Candi berkata dalam diam. Berpustaka dalam bentuk rupa. Menunggu pemaknaan pendatang. Jen Shyu berbeda. Dia manusia. Bersuara dan memetik alat musik. Jen Shyu adalah perpustakaan ilmiah dengan rajutan kata dalam musik petik dan olah vokal suara.
Selesai materi beberapa santri dhuafa mengitari kampus mengisi kekosongan perut yang terus meronta-ronta. 

Perjalanan memutari kampus tak menuai hasil. Kami heran. Dalam campus sebesar ini tak satupun tempat makan buka. Kami berteriak kelaparan dan seorang teman kasihan pada kami yang terus menari tanpa tahu dimana letaknya. Benar. Petunjuknya benar. Adu rebut piring berhasil dikendalikan dengan jiwa antri. Kami makan dengan lahap. Santri dhuafa mendadak kaya dengan menu mempesona. 

*peserta Residensi, Sinau 14 hari di Bilik (Tulisan kesebelas tentang Perpustakaan setelah berkunjung ke UII bersama Mbah Prapto untuk menghadiri acara beliau)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah