Teriakan pagi
membangunkan tidur sebelum subuh. Gedoran pintu tak terdengar oleh telinga yang
ditulikan. Kami khilaf, Kaum abangan dari status santri dhuafa di bilik mulai
terdengar berisik. Sedangkan kaum priyayi sedang menikmati penyebab lembur
semalam, tidur. Satu persatu kaum priyayi membuka mata dan mengucek demi
kejelasan pandangan. Lalu lalang santri bergiliran keluar masuk kamar mandi.
Tertunduk menunggu sambil sesekali menggigil. Sisa desiran angin subuh mampir
menyapa dalam pagi.
Persiapan
berantakan. Mandi ditanggalkan demi sebuah tujuan. Ikut mbah Prapto ke Ngayogyakarta.
Dengan sambutan istimewa pagi ini aku berangkat. Tujuanku ikut mbah Prapto
teruji. Mengapa mbah Prapto perlu ke sana? Ada acara apa? Mbah Prapto mau
tampil? Kugulirkan pertanyaan-pertanyaan bertujuan mengetahui informasi
kegiatan. Pertanyaan diri.
Kurang dari
dua jam perjalanan usai. Disudahi dengan memasukkan badan mobil penumpang ke
mulut gedung. Di depan gedung ada ruang tunggu yang lebar. Beberapa memilih
berdiri sembari menikmati penemuan Candi sejak 2009 silam. Sambutan spanduk
berukuran sangat besar terpajang dengan dasaran warna biru. Memuat nama-nama
pengisi dan asal daerah mereka. Ada salah satu nama tidak asing. Putu Wijaya.
Setahuku dia penulis. Penulis cerpen. Ada keinginan untuk bertemu. Aku
berpengharapan untuk berjumpa. Tapi sematan istilah ‘instalasi’ membuat ragu.
Sambutan candi
Kimpulan tak berlalu begitu saja. Candi menarik untuk dilihat. Melihat bagian
dari mengindera. Tak kasat mata namun tak bermakna. Payah pikirku. Candi itu
masih kokoh. Berabad-abad usianya terkubur dalam tanah. Terkuak dalam bangunan
cerita nenek moyang. Tidak pada candi Kimpulan.
Ditemukan karena tidak sengaja.
Aneh. Seorang teman bertanya kepada mbah Prapto. Mbah Prapto berkisah. Pendengar
berdatangan. Membentuk formasi lingkaran bolong. Mbah berdiri. Berjalan ke
pagar besi dan berkisah lagi tentang Candi. Ketika pembangunan perpustakaan
tidak sengaja ditemukan candi.
Pembangunan perpustakaan sempat menjadi polemik.
Karena wilayah candi harus bersih dari bangunan paling tidak radius 100 m.
Polemik pembangunan perpustakaanpun menjadi perdebatan panjang yang melibatkan
pihak campus dengan budayawan. Namun setelah debat panjang berlangsung akhirnya
izin diturunkan. Area perpustakaan dibangun mengitari candi dan menjadi pustaka
yang menyenangkan. Indah.
Candi
bercerita. Candi berkata dalam diam. Diam, membiarkan serpihan kata berceceran.
Tersusun perlahan membentuk kalimat dalam cerita. Dia hidup dan bercerita dalam
diam. Aku belum kunjung mengerti.
Penelusuran lebih lanjut perlahan menjawab
ketidaktahuan. Memasuki area candi. Permukaan candi, kasar. Tinggi. Berkisar
150-160 cm. Jauh lebih tinggi dariku. Seorang bule menelungkupkan kedua
tangannya di tempatku berdiri. Sepotong pertanyaan kulayangkan. “Apa yang kamu
rasakan?” “Batu ini sangat indah. Luar biasa. Tidak ada benda seperti ini di
Venezuela,”jawab perempuan bule bernama Estefania Pivano. Candi sering dilihat
sebagai suatu hal yang biasa. Tapi Estefania mengaguminya. Candi, bukan persoalan
mata telanjang. Tapi juga pelibatan rasa dalam memandang hingga proses memberi
makna dihasilkan.
Setelah candi
ada museum. Sebagai tempat penyimpanan barang temuan dalam candi maupun yang
bukan. Ada peripih, mangkok perunggu, mesin hitung, komputer pertama, mesin
stensil elektrik, mesin stensil manual, dan buku-buku lawas yang ditulis oleh
beberapa tokoh terkemuka. Ada beberapa tumpukan benda bernama peripih yang tak
terbungkus kaca. Berat. Dinding tembok dipenuhi oleh pigora bercerita proses
penemuan candi, bagaimana serpihan itu dikeluarkan, menandai lantai candi
sebelum digempur dan diisi dengan campuran pasir dan semen untuk meratakan
permukaan lantai candi. Proses pengeluaran serpihan di area candi, pembersihan
dilakukan dengan berhati-hati. Berkelebat kecurigaan datang silih berganti, Orang-orang terlibat dalam penemuan, proses pembersihan dan pembangunan
mengantongi beberapa serpihan kecil yang didapatkan di area candi. Layaknya
sebuah proyek. Pikiran nakal itu menuntut hak.
Lebih dari
pukul sebelas rombongan menuju ruang diskusi. Berjajar tiga pembicara yang
dirangkum dalam satu tema “Sarasehan-Perpustakaan sebagai Sumber Penciptaan
Ilmu dan Kreativitas Seni”. Panitia mendatangkan tiga pembicaa dari berbagai
daerah. Kris Budiman (Dosen UGM), Elisabeth D. Inandiak (Yogyakarta), Jen Shyu
(Amerika). Kris Budiman meminta untuk menjadi pembicara yang pertama karena
menyadari dia akan menyajikan materi dengan banyak uapan kantuk. Latar belakang
institusi kampus memang tidak bisa disembunyikan, Pria penggila Albert Einstein
meracuni presentasinya dengan pembukaan dan penutupan kata-kata dari tokoh
idolanya. Membahas tentang kreativitas. Dia meyakini panggilan menulis berasal
dari kebutuhan. Menulis adalah bentuk kegiatan manusia untuk melakukan hal-hal di
luar yang fana. Pria berkacamata ini mengakhiri bahasannya dengan sunggingan
senyuman.
Pembicara
kedua diberikan kepada Elisabeth D. Inandiak sebagai penulis serat Centhini.
Berbeda dengan Kris Budiman, Eli memberikan penjelasan materi dengan durasi waktu
yang sebentar. Waktu sebentar itu tidak berarti bobot pengetahuan yang dikemas
dalam materi remeh temeh. Eli memberikan pernyataan tentang perpustakaan
pertama berasal dari akal budi dan daya ingat. Eli melakukan perjalanan asing
ke dalam pelosok desa, bertanya, dan merekam, serta menulis untuk
menceritakannya kembali. Eli mendasari menulis dengan membawa misi tugas dari
seorang kekasih yang tersembunyi.
Perempuan
cantik dan energik itu bernama Jen Shyu. Setelan baju tanpa lengan dengan rok
model jepang menutupi tubuhnya. Dugaanku salah. Jen Shyu tidak fasih berbahasa
Indonesia. Perempuan blesteran Timor Leste dan Taiwan ini berbicara sangat
pelan. Eli membantunya. Jen Shyu berkisah tentang ibunya, seorang pustakawan.
Ketakjubannya pada lima lukisan ditafsirkan lewat musik dalam pentas.
Semangatnya menuai pembenaran. Jen Shyu berlari menunjukkan karyanya sambil
sedikit memberi ocehan kata. Diakhir pembahasan Jen Shyu mempersembahkan karya.
Memetik alat musik dari kayu dengan dua senar. Seperti rebab arab.
Jen Shyu mulai
berulah dengan olah vokal. Jari-jari Jen Shyu lentik, petikan alat musiknya
indah. Penuh emosi. Amarah, nestapa, pengharapan, hiburan semua tafsiran ada.
Jen Shyu membawakan lagu dengan bahasa yang tak kumengerti. Ya. Aku memang tak dimengerti.
Tapi racikan musiknya indah. Menggetarkan. Menyesakkan. Berpengharapan.
Mengobrak abrik rasa diam. Suaranya meliuk-liuk, tarik ulur emosi mengejutkan.
Aku memejamkan mata sebentar. Berkelebat peristiwa hadir melibatkan suasana
dalam pengisahan cerita. Kisah kasik di masa kecil.
Candi dan Jen
Shyu. Dua perpustakaan berbeda. Candi berkata dalam diam. Berpustaka dalam
bentuk rupa. Menunggu pemaknaan pendatang. Jen Shyu berbeda. Dia manusia.
Bersuara dan memetik alat musik. Jen Shyu adalah perpustakaan ilmiah dengan
rajutan kata dalam musik petik dan olah vokal suara.
Selesai materi
beberapa santri dhuafa mengitari kampus mengisi kekosongan perut yang terus
meronta-ronta.
Perjalanan memutari kampus tak menuai hasil. Kami heran. Dalam
campus sebesar ini tak satupun tempat makan buka. Kami berteriak kelaparan dan
seorang teman kasihan pada kami yang terus menari tanpa tahu dimana letaknya.
Benar. Petunjuknya benar. Adu rebut piring berhasil dikendalikan dengan jiwa
antri. Kami makan dengan lahap. Santri dhuafa mendadak kaya dengan menu
mempesona.
*peserta Residensi, Sinau 14 hari di Bilik (Tulisan kesebelas tentang Perpustakaan setelah berkunjung ke UII bersama Mbah Prapto untuk menghadiri acara beliau)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah