Jumat, 07 Maret 2014

Gaung dalam Keberaksaraan

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

            Keberangkatan ke Solo Kamis malam tanpa banyak tahu informasi tentangnya, dimana letaknya, seperti apa rupa peramainya, bagaimana kegiatan disana, adalah salah satu keputusan nekad. Ya. Belajar dan bertemu orang-orang yang hanya diketahui lewat cerita seorang kawan. Berbekal nomer handphone dan komunikasi lewat pesan singkat menuntun kami bertiga untuk menikmati pagi di terminal Tirtonadi bersama orang-orang yang melepas lelah selepas duduk berjam-jam dalam bus untuk mengantarkan sampai tujuan masing-masing.
            Pendahuluan serupa disabdakan mas Kabut, begitu sapa Suprapto Suryodharmo padanya,  lelaki sepuh berjiwa muda yang memiliki pengaruh kuat. “Mumpung teman-teman masih mahasiswa belum bekerja belum PNS belum mendapat gelar S2 S3 kita masih sadar, ketemu itu tidak membutuhkan formalitas tidak  memerlukan rapat, tapi semalam mbah Prapto sms menanyakan jadwal yang tidak menentu. Semua bebas mengatur jadwal, berkegiatan sesuai keinginan, namun satu hal, pelan pelan kita akan memulai memasuki dunia satu ke dunia yang lain, menulis tentang berbagai hal, tentang sastra, kota, tokoh, segala hal. Karena membuat persembahan, persembahan kata-kata.“

            Kosmologi rumah yang membuat betah berada di rumah mbah Prapto. Tinggal, mengobrol, menjalani hari-hari dengan beliau. Rumah itu berfaedah. Faedahnya melebihi hutan. Mbah Prapto itu seorang tua pembaca. Pembaca alam, membaca dalam sebuah renungan tentang alam. Menebang sesuatu yang tumbuh di belantara lembaga pendidikan. Suka membicarakan apapun, membuat orang berpikir. Mbah Prapto yang tak bergelar Prima Causa mampu menarik Bandung untuk menyebutnya sebagai orang sakti, nggak akan bisa marah. Serius. Betapapun parahnya diejek, beliau nggak akan marah. Tiga hal bila mendengar namanya menjadi corak pemikiran mbah Prapto, beliau konsisten memikirkan, mewacanakan tentang kampung, candi dan pasar.
Bertemu dengan manusia pemakai kemeja yang kebesaran, oblong, dengan celana hitam komprang, tas pinggang warna hitam, tas samping dengan warna ceria membuat penampilan mbah Prapto terkesan santai, easy going. Tidak akan menyangka bahwa tokoh nyentrik satu ini telah berlayar mengarungi peta dunia, sendirian. Tak menyangka. Mendengar kisah lewat tuturan lisan berirama khas usianya yang lebih dari setengah abad menyisakan malu tak bersekat. Ya. Karena aku masih gadis kemarin sore. Mencoba mengerti kisah yang sarat akan perenungannya secara perlahan hingga kantuk datang menyemai kondisiku. Sebentar aku berkawan kantuk. 
            Pertemuanku, kita, dengan beliau, Mbah Prapto adalah sebuah rencana tak istimewa yang  berizin Tuhan dalam forum tak biasa bagiku dan mengalir sebagai bahasan pada akhirnya menggoda. Mbah prapto. Tak sebanding dengan usahaku mencari letak dan posisi ternyaman ketika kedatangannya, bersiap mendengarkan ceritanya. Aku mulai terkesan dengan pengantar mbah Prapto yang memikirkan perihal regenerasi. Beliau berbicara tentang penerus, generasi baru. Pertemuan membuat mbah Prapto senang karena turut merangsang untuk melakukan regenerasi bila berhadapan dengan kawula muda. Regenerasi menghidupkan generator, kiasan yang mengibaratkan semangat hidup.
            Mbah Prapto mulai mengisahkan dirinya. Tertanggal 02 Pebruari mbah Prapto memberi kabar yang membuat kita ikut merasakan kegembiraannya. Mbah Prapto berulang tahun di usia ke-69. Menuai bonus hidup dari Sang Maha Pemberi Nikmat. Mbah Prapto mengungkapkan perjalanan hidupnya, memulai pencarian dengan ketrampilan gerak tari dan menamai dirinya Joget Amerta. Beliau memaknai gerak tari sebagai ekspresi sebuah tulisan, tapi belum diwartakan, belum diberitahukan. Pembukaan diatas menjadi sebuah pengantar perjalanan panjang nan jauh berlatarbelakang gerak, alam. Bak seorang backpacker di zaman ini. Gerak membaca alam, gerakan manusia, gerakan roh puji.
            Mbah Prapto melakukan perjalanan mendatangi candi, Aborigin, ke Eropa, ke situs alam. Menjadikan Candi sebagai pendekatan mitos menjadikan manusia tahu bahwa dirinya adalah ciptaan alam. Membaca candi yang memiliki nilai ketuhanan, relief, sastra sebagai unsure ketuhanan berdasarkan kepercayaan.
            Dalam pengembaraannya mbah Prapto sempat menuai rasa penasaran tentang pembacaan manusia. Pembacaan itu baru ingin disentuh oleh beliau tersebab mbah Prapto ingin menjadi seorang manusia. Mbah Prapto menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari ciptaan Tuhan, ciptaan Tuhan semesta alam. Makhluk ciptaan Tuhan menjadikan hidup mbah Prapto bagian dari manusia. Itu hal sulit. Seperti konsep keberadaan milik Rene Descartes, aku berpikir maka aku ada. Mbah prapto kurang sepakat dengan konsep Decart. Bentuk keinginan manusia ingin memanusiakan diri, tidak srawung dengan alam, Tuhan. Sebagai sebuah polemik yang harus terus dicari. Seiring dengan pencarian dengan membaca alam.
            Mbah Prapto dekat dengan dunia tirakat, prihatin, dunia alam maka akan bertemu dengan konsep “saya berpikir maka saya ada”. Mbah Prapto menyebut dunia geraknya sebagai dunia umbul dunga atau mantra. Sehingga kata dalam gerak atau kata yang digunakan sebagai perbendaharaan bahasa tulis, bahasa simbol untuk berinteraksi. Seperti penyair asal Turki ST. Sutardji Samsul Bahri. Memaknai kata sebagai talang, yang mampu berdiri sendiri sehingga bisa menyampaikan keberadaannya sendiri. Atau ngrasuk kata yang bisa menilai keberadaannya sendiri seperti Samsul Bahri yang menamainya dengan mantra. Mbah Prapto tidak menamai kegiatannya dengan istilah asing embodying yang merujuk pada kata yang memiliki tubuh. Tapi beliau menggunakan pilihan kata ngrasuk untuk mewakili aktivitasnya. Kerasukan berarti kesurupan. Rasuk berarti pakaian, rasuk agami Islam, Budha, Hindhu. Alasan mbah Prapto memakai kata tersebut seperti ini,”amergo bentuk jejere manungso luwih pas kanggo iku. Ngrasuk.”Menyiratkan ada keindahan, kenikmatan untuk bisa fasionable.   

*peserta Residensi, Sinau 14 hari di Bilik (Tulisan Ketiga tentang Pertemuan)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah