Oleh: Yuslisul
Pransiskasari*
Keberangkatan
ke Solo Kamis malam tanpa banyak tahu informasi tentangnya, dimana letaknya,
seperti apa rupa peramainya, bagaimana kegiatan disana, adalah salah satu
keputusan nekad. Ya. Belajar dan bertemu orang-orang yang hanya diketahui lewat
cerita seorang kawan. Berbekal nomer handphone dan komunikasi lewat pesan
singkat menuntun kami bertiga untuk menikmati pagi di terminal Tirtonadi
bersama orang-orang yang melepas lelah selepas duduk berjam-jam dalam bus untuk
mengantarkan sampai tujuan masing-masing.
Pendahuluan
serupa disabdakan mas Kabut, begitu sapa Suprapto Suryodharmo padanya, lelaki sepuh berjiwa muda yang memiliki
pengaruh kuat. “Mumpung teman-teman masih mahasiswa belum bekerja belum PNS
belum mendapat gelar S2 S3 kita masih sadar, ketemu itu tidak membutuhkan
formalitas tidak memerlukan rapat, tapi
semalam mbah Prapto sms menanyakan jadwal yang tidak menentu. Semua bebas
mengatur jadwal, berkegiatan sesuai keinginan, namun satu hal, pelan pelan kita
akan memulai memasuki dunia satu ke dunia yang lain, menulis tentang berbagai
hal, tentang sastra, kota, tokoh, segala hal. Karena membuat persembahan,
persembahan kata-kata.“
Kosmologi
rumah yang membuat betah berada di rumah mbah Prapto. Tinggal, mengobrol,
menjalani hari-hari dengan beliau. Rumah itu berfaedah. Faedahnya melebihi
hutan. Mbah Prapto itu seorang tua pembaca. Pembaca alam, membaca dalam sebuah
renungan tentang alam. Menebang sesuatu yang tumbuh di belantara lembaga
pendidikan. Suka membicarakan apapun, membuat orang berpikir. Mbah Prapto yang
tak bergelar Prima Causa mampu menarik Bandung untuk menyebutnya sebagai orang
sakti, nggak akan bisa marah. Serius. Betapapun parahnya diejek, beliau nggak
akan marah. Tiga hal bila mendengar namanya menjadi corak pemikiran mbah
Prapto, beliau konsisten memikirkan, mewacanakan tentang kampung, candi dan
pasar.
Bertemu dengan manusia
pemakai kemeja yang kebesaran, oblong, dengan celana hitam komprang, tas
pinggang warna hitam, tas samping dengan warna ceria membuat penampilan mbah
Prapto terkesan santai, easy going. Tidak akan menyangka bahwa tokoh nyentrik
satu ini telah berlayar mengarungi peta dunia, sendirian. Tak menyangka.
Mendengar kisah lewat tuturan lisan berirama khas usianya yang lebih dari
setengah abad menyisakan malu tak bersekat. Ya. Karena aku masih gadis kemarin
sore. Mencoba mengerti kisah yang sarat akan perenungannya secara perlahan
hingga kantuk datang menyemai kondisiku. Sebentar aku berkawan kantuk.
Pertemuanku,
kita, dengan beliau, Mbah Prapto adalah sebuah rencana tak istimewa yang berizin Tuhan dalam forum tak biasa bagiku
dan mengalir sebagai bahasan pada akhirnya menggoda. Mbah prapto. Tak sebanding
dengan usahaku mencari letak dan posisi ternyaman ketika kedatangannya, bersiap
mendengarkan ceritanya. Aku mulai terkesan dengan pengantar mbah Prapto yang
memikirkan perihal regenerasi. Beliau berbicara tentang penerus, generasi baru.
Pertemuan membuat mbah Prapto senang karena turut merangsang untuk melakukan
regenerasi bila berhadapan dengan kawula muda. Regenerasi menghidupkan
generator, kiasan yang mengibaratkan semangat hidup.
Mbah
Prapto mulai mengisahkan dirinya. Tertanggal 02 Pebruari mbah Prapto memberi
kabar yang membuat kita ikut merasakan kegembiraannya. Mbah Prapto berulang
tahun di usia ke-69. Menuai bonus hidup dari Sang Maha Pemberi Nikmat. Mbah
Prapto mengungkapkan perjalanan hidupnya, memulai pencarian dengan ketrampilan
gerak tari dan menamai dirinya Joget Amerta. Beliau memaknai gerak tari sebagai
ekspresi sebuah tulisan, tapi belum diwartakan, belum diberitahukan. Pembukaan
diatas menjadi sebuah pengantar perjalanan panjang nan jauh berlatarbelakang
gerak, alam. Bak seorang backpacker di zaman ini. Gerak membaca alam, gerakan
manusia, gerakan roh puji.
Mbah
Prapto melakukan perjalanan mendatangi candi, Aborigin, ke Eropa, ke situs
alam. Menjadikan Candi sebagai pendekatan mitos menjadikan manusia tahu bahwa
dirinya adalah ciptaan alam. Membaca candi yang memiliki nilai ketuhanan,
relief, sastra sebagai unsure ketuhanan berdasarkan kepercayaan.
Dalam pengembaraannya mbah Prapto sempat menuai rasa
penasaran tentang pembacaan manusia. Pembacaan itu baru ingin disentuh oleh
beliau tersebab mbah Prapto ingin menjadi seorang manusia. Mbah Prapto
menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari ciptaan Tuhan, ciptaan Tuhan
semesta alam. Makhluk ciptaan Tuhan menjadikan hidup mbah Prapto bagian dari
manusia. Itu hal sulit. Seperti konsep keberadaan milik Rene Descartes, aku
berpikir maka aku ada. Mbah prapto kurang sepakat dengan konsep Decart. Bentuk
keinginan manusia ingin memanusiakan diri, tidak srawung dengan alam,
Tuhan. Sebagai sebuah polemik yang harus terus dicari. Seiring dengan pencarian
dengan membaca alam.
Mbah
Prapto dekat dengan dunia tirakat, prihatin, dunia alam maka akan bertemu
dengan konsep “saya berpikir maka saya ada”. Mbah Prapto menyebut dunia
geraknya sebagai dunia umbul dunga atau mantra. Sehingga kata dalam gerak atau
kata yang digunakan sebagai perbendaharaan bahasa tulis, bahasa simbol untuk
berinteraksi. Seperti penyair asal Turki ST. Sutardji Samsul Bahri. Memaknai
kata sebagai talang, yang mampu berdiri sendiri sehingga bisa menyampaikan
keberadaannya sendiri. Atau ngrasuk kata yang bisa menilai keberadaannya
sendiri seperti Samsul Bahri yang menamainya dengan mantra. Mbah Prapto tidak
menamai kegiatannya dengan istilah asing embodying yang merujuk pada
kata yang memiliki tubuh. Tapi beliau menggunakan pilihan kata ngrasuk untuk
mewakili aktivitasnya. Kerasukan berarti kesurupan. Rasuk berarti
pakaian, rasuk agami Islam, Budha, Hindhu. Alasan mbah Prapto memakai
kata tersebut seperti ini,”amergo bentuk jejere manungso luwih pas kanggo
iku. Ngrasuk.”Menyiratkan ada keindahan, kenikmatan untuk bisa fasionable.
*peserta Residensi, Sinau 14 hari di Bilik (Tulisan Ketiga tentang Pertemuan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah