Oleh: Yuslisul Pransiskasari*
Awal
perjumpaan perempuan dan laki-laki bermula dari berbagai versi. Adam dan hawa
atas nama buah kuldi. Yusuf dan Yulaikha bersilang sapa. Tak punya ikatan.
Zaman berubah. Perjumpaan bergeser cerita. Tak ada ikatan, jabang bayipun jadi.
Ngeri. Tapi manusia masih memiliki kemanusiaannya. Berjumpa. Berkomitmen lalu
saling terikat. Resmi dalam ikatan suami istri. Tertulis dalam surat nikah
berlembaga KUA.
Lebih
dari sembilan bulan dalam kandungan, perempuan menemui masanya. Tiupan ruh
ketika janin usia tiga
bulan menandakan babak baru akan segera dimulai. Perempuan membawa kehidupan anyar dalam dirinya. Bersiap menetaskan telur berjenis jantan atau betina. Kehati-hatian menjadi rutinitas harian menjaga telur agar menetas tepat waktu. Sejak itu, sejarah tugas perempuan bertambah. Telur yang menetas membutuhkan induk. Induk itu bernama ibu berbentuk panggilan emak, bunda, madam, mbok, umi, ibuk, buke dan panggilan sejenis lainnya.
bulan menandakan babak baru akan segera dimulai. Perempuan membawa kehidupan anyar dalam dirinya. Bersiap menetaskan telur berjenis jantan atau betina. Kehati-hatian menjadi rutinitas harian menjaga telur agar menetas tepat waktu. Sejak itu, sejarah tugas perempuan bertambah. Telur yang menetas membutuhkan induk. Induk itu bernama ibu berbentuk panggilan emak, bunda, madam, mbok, umi, ibuk, buke dan panggilan sejenis lainnya.
Ibu
menjadi penopang dikala pahit terasai, menjadi tumpuan jikalau tersandung batu
kehidupan, menjadi kekuatan bila rapuh menghancurkan. Ibu tak lagi punya
beberapa definisi. Jutaan kata tak kan mampu menandingi kehebatan seorang ibu.
Perjuangan memakan usia namun tak melenturkan semangatnya. Ibu ada dikala
bahagia menderma, nestapa menyapa. Ibu meraup nama dalam Negara. Adalah kabar
ibu Ani.
Gonjang
ganjing posisi ibu Ani sebagai istri orang nomer satu di Indonesia menjadi
pembicaraan hangat di kalangan publik. Layaknya pujangga meneriakkan syair
kerajaan. Tidak hanya di twitter, instagram, media massa, elektronik, cetak
tapi masuk menjadi bagian konsumsi masyarakat berbentuk tindak lampah zaman ini. Bukan lagi gulungan daun, sobekan kertas. Ibu Negara menjelma model perempuan pemeran lakon sinetron
Indonesia edisi istri dari bapak presiden. Penghargaan dari luar negri menjadi
bukti pentas perdana di panggung hiburan.
Sosok
perempuan tegas, optimis namun mudah terpancing emosi ini memberi pengaruh bagi
suami sebagai pimpinan negri. Tanpa ibu Ani, pak SBY tidak mungkin sekuat yang
sekarang. Layaknya ratu yang setia pada rajanya. Ilusi. Kritik media yang
sering diklaim sebagai fitnah cukup menampar pak SBY. Kehadiran ibu Negara
sebagai bagian dari usaha membantu suaminya di atas sisi lain turut
berkontribusi untuk Negara bisa dikatakan sebagai bentuk kolaborasi nyata
sebuah keluarga. Apresiasi patut dihaturkan atas iklim keseimbangan yang hendak
dilakukan.
Dalam
keluarga, ibu Ani berperan sebagai ibu rumah tangga seperti yang pernah
disampaikan oleh pak SBY. Panggilan ibu Ani sebagai istrinya mengandung makna
bahwa pak SBY memberi penghormatan bagi istrinya. Ada wilayah kekuasaan yang
diberikan. SBY kepada istrinya tanpa beliau sadari.
Ibu
Ani menerima pembrian suaminya dengan suka cita. Sistem keluarga meluas
menjamah sistem kenegaraan. Ibu Ani ikut mendapat sorotan public. Segala
aktivitas yang diabadikan lewat media sosial instagram ikut tersorot. Plesiran
keluarga yang menjadi kegiatan rutinan tak lagi dinikmati sendirian. Tiap
pasang mata telanjang menyaksikan suka cita keluarga dalam bingkai kenegaraan.
Ibu
Ani sebagai perempuan. Perempuan menerima dan berbuah. Ada jeda diantara dua
kata. Menanti. Tak cukup diam. Bergerak menghidupi jabang bayi, berpindah tak
tersakiti, terpejam merasai gulita. Menyimpan
buah hingga datang masa matang. Dipetik. Perlu pencucian agar terhindar dari
beberapa kotoran kemudian disajikan. Proses panjang berulang. Sebuah siklus
kehidupan membentuk keturunan. Keluarga merangkum Negara.
*peserta Residensi, Sinau 14 hari di Bilik (Tulisan kedelapan tentang Tanggapan untuk tulisan di Koran Tempo tentang Ibu Negara)
*peserta Residensi, Sinau 14 hari di Bilik (Tulisan kedelapan tentang Tanggapan untuk tulisan di Koran Tempo tentang Ibu Negara)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah