Sabtu, 15 Maret 2014

Rekam Jejak Ibu


Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Awal perjumpaan perempuan dan laki-laki bermula dari berbagai versi. Adam dan hawa atas nama buah kuldi. Yusuf dan Yulaikha bersilang sapa. Tak punya ikatan. Zaman berubah. Perjumpaan bergeser cerita. Tak ada ikatan, jabang bayipun jadi. Ngeri. Tapi manusia masih memiliki kemanusiaannya. Berjumpa. Berkomitmen lalu saling terikat. Resmi dalam ikatan suami istri. Tertulis dalam surat nikah berlembaga KUA.
Lebih dari sembilan bulan dalam kandungan, perempuan menemui masanya. Tiupan ruh ketika janin usia tiga
bulan menandakan babak baru akan segera dimulai. Perempuan membawa kehidupan anyar dalam dirinya. Bersiap menetaskan telur berjenis jantan atau betina. Kehati-hatian menjadi rutinitas harian menjaga telur agar menetas tepat waktu. Sejak itu, sejarah tugas perempuan bertambah. Telur yang menetas membutuhkan induk. Induk itu bernama ibu berbentuk panggilan emak, bunda, madam, mbok, umi, ibuk, buke dan panggilan sejenis lainnya.

Ibu menjadi penopang dikala pahit terasai, menjadi tumpuan jikalau tersandung batu kehidupan, menjadi kekuatan bila rapuh menghancurkan. Ibu tak lagi punya beberapa definisi. Jutaan kata tak kan mampu menandingi kehebatan seorang ibu. Perjuangan memakan usia namun tak melenturkan semangatnya. Ibu ada dikala bahagia menderma, nestapa menyapa. Ibu meraup nama dalam Negara. Adalah kabar ibu Ani. 

Gonjang ganjing posisi ibu Ani sebagai istri orang nomer satu di Indonesia menjadi pembicaraan hangat di kalangan publik. Layaknya pujangga meneriakkan syair kerajaan. Tidak hanya di twitter, instagram, media massa, elektronik, cetak tapi masuk menjadi bagian konsumsi masyarakat berbentuk tindak lampah zaman ini. Bukan lagi gulungan daun, sobekan kertas. Ibu Negara menjelma model perempuan pemeran lakon sinetron Indonesia edisi istri dari bapak presiden. Penghargaan dari luar negri menjadi bukti pentas perdana di panggung hiburan. 

Sosok perempuan tegas, optimis namun mudah terpancing emosi ini memberi pengaruh bagi suami sebagai pimpinan negri. Tanpa ibu Ani, pak SBY tidak mungkin sekuat yang sekarang. Layaknya ratu yang setia pada rajanya. Ilusi. Kritik media yang sering diklaim sebagai fitnah cukup menampar pak SBY. Kehadiran ibu Negara sebagai bagian dari usaha membantu suaminya di atas sisi lain turut berkontribusi untuk Negara bisa dikatakan sebagai bentuk kolaborasi nyata sebuah keluarga. Apresiasi patut dihaturkan atas iklim keseimbangan yang hendak dilakukan. 

Dalam keluarga, ibu Ani berperan sebagai ibu rumah tangga seperti yang pernah disampaikan oleh pak SBY. Panggilan ibu Ani sebagai istrinya mengandung makna bahwa pak SBY memberi penghormatan bagi istrinya. Ada wilayah kekuasaan yang diberikan. SBY kepada istrinya tanpa beliau sadari. 

Ibu Ani menerima pembrian suaminya dengan suka cita. Sistem keluarga meluas menjamah sistem kenegaraan. Ibu Ani ikut mendapat sorotan public. Segala aktivitas yang diabadikan lewat media sosial instagram ikut tersorot. Plesiran keluarga yang menjadi kegiatan rutinan tak lagi dinikmati sendirian. Tiap pasang mata telanjang menyaksikan suka cita keluarga dalam bingkai kenegaraan. 

Ibu Ani sebagai perempuan. Perempuan menerima dan berbuah. Ada jeda diantara dua kata. Menanti. Tak cukup diam. Bergerak menghidupi jabang bayi, berpindah tak tersakiti,  terpejam merasai gulita. Menyimpan buah hingga datang masa matang. Dipetik. Perlu pencucian agar terhindar dari beberapa kotoran kemudian disajikan. Proses panjang berulang. Sebuah siklus kehidupan membentuk keturunan. Keluarga merangkum Negara. 

*peserta Residensi, Sinau 14 hari di Bilik (Tulisan kedelapan tentang Tanggapan untuk tulisan di Koran Tempo tentang Ibu Negara)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#Tuliskan apa yang kamu rasakan setelah membaca tulisan ini. Berkomentar boleh, memaki dipersilakan, curhat apalagi, terserah