Jumat, 20 Februari 2015

KKN [17 dan Jumok]

*setelah seminggu menikmati kegiatan KKN

Seminggu sudah aku dan bala kurawa mendiami dusun Jumok. Dusun yang pernah menjadi imajinasi dan impian ketika masih bocah. Ingatan masa kecil berlarian mendulang waktu lampau. Masa kecil bertumbuh dewasa, meletakkan tujuan pada tempat berteduh. Berteduh dari teriknya matahari serta derasnya air hujan yang kadang membanjiri bilik – sungai.

Hidup di Jumok berniat menggugurkan kewajiban di semester tujuh. Bertemu, berkumpul dan bersama 17 orang teman berbeda jurusan. Mengisi aktivitas sejak matahari terbit sampai tenggelam

Sabtu, 31 Januari 2015

KKN [Akses Jalan]

*ditulis ketika masa kkn dan diedit sebulan setelah kkn usai


Aku seorang mahasiswa semester tujuh. Sekarang aku sedang menikmati kegiatan kkn. Kau tahu apa yang dilakukan mahasiswa ketika kkn? Bilang saja tidak tahu. Jangan memaksa diri untuk berbohong. Kasihan dirimu. Kau ingin tahu jawabannya tidak? Bila tidak, kupaksa kau untuk mau mendengarkannya.

Dimulai dari sekarang. 

Sabtu, 21 Juni 2014

Suwardi: Politik dan Pendidikan

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Membaca buku biografi layaknya meminum segelas cincau capucino yang sedang marak menjadi konsumsi bersama. Bagaimana tidak? Tegukan pertama membuat haus tidak kunjung usai. Lagi dan lagi. Kesegaran tokohnya di masa gemilang membuat pembaca mencari tahu siapa dan apa-apa yang memasak tokoh hingga sematang pemikirannya. Alhasil bumbu-bumbu disiapkan, koki hebat didatangkan. Mencicipi tokoh Internasional berharga lokal. Lalu mencicipi harus terus ditelusuri hingga sempurna rasa tokoh yang dikehendaki.

Senin, 07 April 2014

Bolpoin Berstatus Sosial


Oleh: Yuslisul Pransiskasari
Mahasiswa Tadris Matematika IAIN Tulungagung

Bolpoin menjadi benda tak asing dalam dunia tulis menulis. Kepemilikan bolpoin tidak hanya berada pada kalangan akademisi pendidikan, pejabat, dan bergerak di bidang formal. Bolpoin dimiliki untuk menunjang kebutuhan setiap manusia. Kernet bus, petugas simpan pinjam, pegawai bank, pedagang sayur, tukang bubur, pengusaha toko dan lain-lain. Mereka menggunakan bolpoin untuk melakukan kerja harian. 

Ketika masih SD kelas dua guruku melarang siswanya untuk menggunakan bolpoin. Perkara larangan bukan terletak pada jenjang kelas. Namun jenjang kelas dua dinilai belum terampil menggunakan bolpoin. Berbagai alasan dilayangkan untuk membungkam sikap siswa agar tidak menggunakan bolpoin saat itu. Alasan lain

Jurnalis berkisah Sastra


Oleh: Yuslisul Pransiskasari

Mendapati buku keluaran lama berperasaan berbeda. Ada hal tak terungkapkan manakala menyentuh, terlibat dalam bayangan masa lalu dalam ingatan yang tak karuan, campur aduk bahkan tak tertata. Menghadirkan diri dalam menikmati buku bukan lagi sebuah kebimbangan. Adalah seikat kepercayaan bahwa diri mampu membawa pengaruh dalam berikhtiar menyelesaikan buku. Usai selesai bentuk lega datang tak sembunyi-sembunyi. Menyapa dan bergabung menjadi diri yang berani.  

Keberanian bermula. Tercipta keinginan. Keinginan untuk memiliki buku berlatar lawas. Buku berlatar lawas tak pernah mendiami toko buku. Gramedia, Togamas, dan sejenisnya menawarkan buku baru berkelas best seller. Buku lawas ada tapi tak berjeda lama. Tak terjamah, berdebu, tanpa plastik dan bernoda.

Kamis, 20 Maret 2014

Pustaka: Antara Candi dan Jen Shyu



Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Teriakan pagi membangunkan tidur sebelum subuh. Gedoran pintu tak terdengar oleh telinga yang ditulikan. Kami khilaf, Kaum abangan dari status santri dhuafa di bilik mulai terdengar berisik. Sedangkan kaum priyayi sedang menikmati penyebab lembur semalam, tidur. Satu persatu kaum priyayi membuka mata dan mengucek demi kejelasan pandangan. Lalu lalang santri bergiliran keluar masuk kamar mandi. Tertunduk menunggu sambil sesekali menggigil. Sisa desiran angin subuh mampir menyapa dalam pagi. 

Persiapan berantakan. Mandi ditanggalkan demi sebuah tujuan. Ikut mbah Prapto ke Ngayogyakarta.

Rabu, 19 Maret 2014

Terikat Kebijakan

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Layaknya pergantian musim. Kurikulum terus berganti mencari kecocokan. Kebijakan bergulir secara beriringan. Perlengkapan pembelajaran, buku pelajaran terlalu dini untuk ditinggalkan. Kasihan. Tiap pasang mata membelalak. Terkejut, geleng-geleng kepala, tidak percaya. Ketidakpercayaan itu berkulitkan pendidikan berisi kemampuan guru dan siswa pada wajan penggorengan bernama kebijakan. Guru dan siswa layaknya garam dan gula pada racikan masakan. Hambar jika tidak disertakan. Aneh jika kebanyakan. Perlu takaran cukup untuk rasa yang sesuai dan sepadan. Namun sayang, koki tak memiliki kepercayaan. Tanpa memperhatikan dampak kesehatan, campuran penyedap makanan menjadi penentu rasa yang lebih mencetarkan. Lezat. 

Perjalanan mengembara bermula ketika Koran Media Indonesia memuat artikel hasil olah tangan dan pikiran Musliar Kasim. Dengan judul ‘Implementasi Kurikulum 2013; Kebijakan Multi sasaran’ yang dimuat