Oleh:
Yuslisul Pransiskasari*
Layaknya
pergantian musim. Kurikulum terus berganti mencari kecocokan. Kebijakan
bergulir secara beriringan. Perlengkapan pembelajaran, buku pelajaran terlalu
dini untuk ditinggalkan. Kasihan. Tiap pasang mata membelalak. Terkejut,
geleng-geleng kepala, tidak percaya. Ketidakpercayaan itu berkulitkan
pendidikan berisi kemampuan guru dan siswa pada wajan penggorengan bernama
kebijakan. Guru dan siswa layaknya garam dan gula pada racikan masakan. Hambar
jika tidak disertakan. Aneh jika kebanyakan. Perlu takaran cukup untuk rasa
yang sesuai dan sepadan. Namun sayang, koki tak memiliki kepercayaan. Tanpa
memperhatikan dampak kesehatan, campuran penyedap makanan menjadi penentu rasa
yang lebih mencetarkan. Lezat.
Perjalanan
mengembara bermula ketika Koran Media Indonesia memuat artikel hasil olah
tangan dan pikiran Musliar Kasim. Dengan judul ‘Implementasi Kurikulum 2013; Kebijakan Multi sasaran’ yang dimuat
Senin, 10 Pebruari 2014. Bergelar wakil mendikbud bidang pendidikan, lembaga pendidikan di bawah payung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu profesi dalam tataran pejabat yang cukup
menggiurkan. Sebagai seorang pejabat pendidikan, Musliar Kasim menilai dirinya mampu untuk mengatasi persoalan pendidikan dengan pengadaan buku kurikulum yang dibuatnya secara susah payah berbantuan sumber daya pakar berbagai kalangan. Buku itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan siswa dan guru sebagai pelaksana. Penambahan guru pendamping sebagai pemantau kegiatan guru di kelas patut menjadi pertimbangan dalam mengawal gerak guru ketika mengantarkan siswa.
Senin, 10 Pebruari 2014. Bergelar wakil mendikbud bidang pendidikan, lembaga pendidikan di bawah payung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu profesi dalam tataran pejabat yang cukup
menggiurkan. Sebagai seorang pejabat pendidikan, Musliar Kasim menilai dirinya mampu untuk mengatasi persoalan pendidikan dengan pengadaan buku kurikulum yang dibuatnya secara susah payah berbantuan sumber daya pakar berbagai kalangan. Buku itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan siswa dan guru sebagai pelaksana. Penambahan guru pendamping sebagai pemantau kegiatan guru di kelas patut menjadi pertimbangan dalam mengawal gerak guru ketika mengantarkan siswa.
Pendidikan
yang merupakan induk semang memang sudah seharusnya memberikan sumbangan bagi
pembenahan sumber daya manusia. Dan ikhtiar yang sedang dilakukan salah satunya
membuat buku kurikulum berstandarisasi sebagai panduan. Tidak berhenti sampai
disitu. Musliar mengatakan bahwa kurikulum harus diterjemahkan menjadi buku
teks pelajaran dan buku pedoman guru. Guru sangat berperan dalam tercapainya
tujuan kebijakan kurikulum 2013. Lagi-lagi guru. Bekerja dengan banyak
kebijakan yang harus dijalankan.
Pendidikan tidak lagi sebuah kedinamisan
keilmuan, yang bergerak sesuai kebutuhan zaman. Pendidikan lebih berpihak pada
kitab suci kurikulum 2013. Mempertahankan kesalahan sebagai bentuk
ketidakpatutan. Pendidikan bukan lagi dimaknai sebagai proses pembelajaran dan
belajar. Karena kesalahan tidak dibolehkan berulang. Padahal kesalahan memberi
kesempatan pengolahan tindakan. Mengajarkan seseorang mengerti pilihan tindakan
yang lebih baik. Kesalahan berulang menyebabkan pembentukan sikap yang berujung
pada pembenahan. Kebutuhan siswa tercukupi. Musliar tak menyinggung.
Bagaimanapun
juga Musliar terlanjur meletakkan guru menjadi tokoh central yang memegang
otoritas kesalahan ketika terjadi ketidakberesan dalam kegiatan berpendidikan. Semenjak
itu posisi guru menjadi tertuduh. Guru tak lagi jadi penggembira. Perantara
yang menyiramkan benih-benih kebahagiaan dalam berkegiatan pembelajaran hilang
keakuan. Guru akan jadi robot pelaksana tanpa perasaan untuk memenuhi dahaga
kekuasaan. Pengabdian tak jadi persoalan. Begitu guru disalahkan, semua pihak
bungkam. Tak mau memberi keterangan. Seolah-olah guru memang pusat perhatian.
Pihak lain menyingkir bersamaan. Setting-an.
Bermula
dari kebijakan. Berlanjut pada program-program dalam konsep kurikulum 2013
menuju perkenalan. Perkenalan dengan tanpa bernoda kesalahan. Kebenaran
diutamakan. Proses belajar terjadi secara tidak seimbang. Ada porsi berlebihan.
Pemunculan kebijakan layaklah mendapat apresiasi dari pembaca. Bagaimanapun
juga, pendidikan merupakan bagian terpenting dalam proses kehidupan. Menarik
untuk dibahas. Pendidikan formal selalu menemui masa mudanya ketika ada inovasi
baru terkait kebijakan, pergantian kurikulum secara terus menerus, serta
perangkat pembelajaran yang menyusahkan.
Musliar
menginginkan kegiatan kependidikan berlangsung secara berurutan. Pendampingan
bagi guru perlu dilaksanakan untuk memantau kegiatan guru di kelas. Kegiatan
pemantauan yang merupakan usulan baru dalam kurikulum 2013 ini tidak memberi porsi
kepercayaan pada guru secara total. Gerak guru terbatas. Akibatnya pengetahuan
yang disampaikan hanya sebatas untuk memenuhi kurikulum. Selebihnya dilarang.
Kosmologi kelas milik guru perlahan-lahan diabaikan. Kebijakan turut campur
tangan dengan mendatangkan pendamping guru.
Konsep
yang ditawarkan oleh Musliar dalam buku kurikulum terkesan terburu-buru. Persiapan
evaluasi buku dan pembuatan buku baru tidak cukup dilakukan dalam beberapa
bulan saja jika menginginkan hasil memuaskan. Pelatihan guru secara paralel perlu
dilaksanakan untuk menunjang kebutuhan siswa dalam pemenuhan pengetahuan. Pelatihan
paralel hanya mampu menjadi landasan bergerak bagi guru. Bukan sengaja
menyibukkan dengan kegiatan pelatihan yang berimbas pada pembatasan gerak guru
dalam kamera pemantauan. Kemampuan alamiah guru dikesampingkan demi mencoba
kurikulum yang baru. Penyeragaman kemampuan dikatakan sebagai lawan kata dari
penyimpangan pemahaman terkait penerbitan buku pedoman kurikulum yang tidak
dikeluarkan secara bebas. Mengurangi jatah perjumpaan dengan siswa dalam medan
lapangan pengetahuan. Guru juga manusia. Memiliki keunikan berbeda. Bukan
sebuah benda tak bernyawa yang harus sama pada proses pelaksanaannya.
*peserta Residensi, Sinau 14 hari di Bilik (Tulisan kesepuluh tentang Tanggapan tulisan Musliar Kasim di Media Indonesia)
inspiratif,..
BalasHapuskenapa ya mbak tik malah dihapuskan dari k13? he