Sabtu, 21 Juni 2014

Suwardi: Politik dan Pendidikan

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Membaca buku biografi layaknya meminum segelas cincau capucino yang sedang marak menjadi konsumsi bersama. Bagaimana tidak? Tegukan pertama membuat haus tidak kunjung usai. Lagi dan lagi. Kesegaran tokohnya di masa gemilang membuat pembaca mencari tahu siapa dan apa-apa yang memasak tokoh hingga sematang pemikirannya. Alhasil bumbu-bumbu disiapkan, koki hebat didatangkan. Mencicipi tokoh Internasional berharga lokal. Lalu mencicipi harus terus ditelusuri hingga sempurna rasa tokoh yang dikehendaki.

Senin, 07 April 2014

Bolpoin Berstatus Sosial


Oleh: Yuslisul Pransiskasari
Mahasiswa Tadris Matematika IAIN Tulungagung

Bolpoin menjadi benda tak asing dalam dunia tulis menulis. Kepemilikan bolpoin tidak hanya berada pada kalangan akademisi pendidikan, pejabat, dan bergerak di bidang formal. Bolpoin dimiliki untuk menunjang kebutuhan setiap manusia. Kernet bus, petugas simpan pinjam, pegawai bank, pedagang sayur, tukang bubur, pengusaha toko dan lain-lain. Mereka menggunakan bolpoin untuk melakukan kerja harian. 

Ketika masih SD kelas dua guruku melarang siswanya untuk menggunakan bolpoin. Perkara larangan bukan terletak pada jenjang kelas. Namun jenjang kelas dua dinilai belum terampil menggunakan bolpoin. Berbagai alasan dilayangkan untuk membungkam sikap siswa agar tidak menggunakan bolpoin saat itu. Alasan lain

Jurnalis berkisah Sastra


Oleh: Yuslisul Pransiskasari

Mendapati buku keluaran lama berperasaan berbeda. Ada hal tak terungkapkan manakala menyentuh, terlibat dalam bayangan masa lalu dalam ingatan yang tak karuan, campur aduk bahkan tak tertata. Menghadirkan diri dalam menikmati buku bukan lagi sebuah kebimbangan. Adalah seikat kepercayaan bahwa diri mampu membawa pengaruh dalam berikhtiar menyelesaikan buku. Usai selesai bentuk lega datang tak sembunyi-sembunyi. Menyapa dan bergabung menjadi diri yang berani.  

Keberanian bermula. Tercipta keinginan. Keinginan untuk memiliki buku berlatar lawas. Buku berlatar lawas tak pernah mendiami toko buku. Gramedia, Togamas, dan sejenisnya menawarkan buku baru berkelas best seller. Buku lawas ada tapi tak berjeda lama. Tak terjamah, berdebu, tanpa plastik dan bernoda.

Kamis, 20 Maret 2014

Pustaka: Antara Candi dan Jen Shyu



Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Teriakan pagi membangunkan tidur sebelum subuh. Gedoran pintu tak terdengar oleh telinga yang ditulikan. Kami khilaf, Kaum abangan dari status santri dhuafa di bilik mulai terdengar berisik. Sedangkan kaum priyayi sedang menikmati penyebab lembur semalam, tidur. Satu persatu kaum priyayi membuka mata dan mengucek demi kejelasan pandangan. Lalu lalang santri bergiliran keluar masuk kamar mandi. Tertunduk menunggu sambil sesekali menggigil. Sisa desiran angin subuh mampir menyapa dalam pagi. 

Persiapan berantakan. Mandi ditanggalkan demi sebuah tujuan. Ikut mbah Prapto ke Ngayogyakarta.

Rabu, 19 Maret 2014

Terikat Kebijakan

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Layaknya pergantian musim. Kurikulum terus berganti mencari kecocokan. Kebijakan bergulir secara beriringan. Perlengkapan pembelajaran, buku pelajaran terlalu dini untuk ditinggalkan. Kasihan. Tiap pasang mata membelalak. Terkejut, geleng-geleng kepala, tidak percaya. Ketidakpercayaan itu berkulitkan pendidikan berisi kemampuan guru dan siswa pada wajan penggorengan bernama kebijakan. Guru dan siswa layaknya garam dan gula pada racikan masakan. Hambar jika tidak disertakan. Aneh jika kebanyakan. Perlu takaran cukup untuk rasa yang sesuai dan sepadan. Namun sayang, koki tak memiliki kepercayaan. Tanpa memperhatikan dampak kesehatan, campuran penyedap makanan menjadi penentu rasa yang lebih mencetarkan. Lezat. 

Perjalanan mengembara bermula ketika Koran Media Indonesia memuat artikel hasil olah tangan dan pikiran Musliar Kasim. Dengan judul ‘Implementasi Kurikulum 2013; Kebijakan Multi sasaran’ yang dimuat

Sabtu, 15 Maret 2014

Jasad Eropa Berkisah Indonesia


Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Di luar masih hujan. Gemericik  air turun melengkapi hidangan sore menyambut tamu dari Banyuwangi. Warna hijau melekat pada tubuh tiap jiwa bertujuan mengunjungi mas Bandung di kediaman.  Sebentar suasana hening. Tak lekas keheningan berlangsung lama. Tuan rumah risih. Rumahnya berganti lembaga. Lembaga dengan penuh ikatan tali bertaut satu sama lain di bawah payung Kementrian Agama. Berisik kasak kusuk terwakili oleh raut wajah tak terbebas. Kelelahan dalam guyuran hujan. Santri bilik cekakakan. Tamu keheranan. Tuan rumah cengengesan, menanggalkan ketakberdosaan. 

Santri bilik merapat ke belakang. Sementara tamu memendam kekakuan di ruang depan. Aku dan temanku berbisik keheranan. Mengeja tepukan tanda hiburan dengan guyonan. Mas Bandung memberitahukan

Rekam Jejak Ibu


Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Awal perjumpaan perempuan dan laki-laki bermula dari berbagai versi. Adam dan hawa atas nama buah kuldi. Yusuf dan Yulaikha bersilang sapa. Tak punya ikatan. Zaman berubah. Perjumpaan bergeser cerita. Tak ada ikatan, jabang bayipun jadi. Ngeri. Tapi manusia masih memiliki kemanusiaannya. Berjumpa. Berkomitmen lalu saling terikat. Resmi dalam ikatan suami istri. Tertulis dalam surat nikah berlembaga KUA.
Lebih dari sembilan bulan dalam kandungan, perempuan menemui masanya. Tiupan ruh ketika janin usia tiga

Jumat, 07 Maret 2014

Seniman, Profesi Setengah Dewa

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

            Seniman ikut berperan untuk menciptakan beragam imajinasi bagi pelanggan, penikmat, siapapun. Melahirkan keindahan, menciprati daya merasa adalah misi seniman. Mereka juga menggarap ukiran, polesan lukisan dalam kanvas, liukan tarian di panggung pertunjukan, irama tembang, rangkaian tulisan. Proses kreatif seniman menjadi kegiatan ritual, melibatkan proses panjang, berkutat dalam seabrek imajinasi, menseleksi serta menelurkan buah karya. Proses kreatif yang komplit. Penikmat karya akan memuji, mencaci, heran, mlongo, serta berbagai ekspresi lainnya yang tak sanggup dijelaskan. Seniman mencipta ungkapan perasaan manusia.
            Seniman sering lupa, dia tidak bekerja sendirian. Sehingga, dia tidak bisa membuat klaim bahwa

Sensasi dalam Kopi

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

            Malam yang semakin dingin ini tak lantas membuatku berhenti untuk terus menyelesaikan tulisan hari ini. Sajian tulisan Dewi Lestari memang menggairahkan untuk dibaca. Terlarut dalam isi tulisannya adalah hal yang biasa. Sudah beberapa buku karyanya yang diterbitkan. Beberapa diantaranya masih menjadi konsumsiku.
            Kopi selalu menjadi teman malam yang dingin. Kehadirannya membawa sensasi berbeda bagi beberapa orang penikmatnya. Kopi. Rasa pahitnya mengantarkan pada dahaga hidup yang tak gentar untuk dijalani. Pilihan manisnya memanjakan lidah penikmat pula. Hidup tak selalu soal pahit manis. Kopipun menjelma menjadi kehidupan.
            Dee, sebutan singkat untuk Dewi Lestari, hidup bersama kopi racikannya. Mengotak-atik susunan kata, menambalnya dengan semen keindahan dan jadilah Filosofi Kopi di tahun 1996. Satu anak Dee lahir menambah anak yang terlahir sebelumnya. Koleksi buku pembaca bertambah pula. Awal pembukaan cerpen

Gaung dalam Keberaksaraan

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

            Keberangkatan ke Solo Kamis malam tanpa banyak tahu informasi tentangnya, dimana letaknya, seperti apa rupa peramainya, bagaimana kegiatan disana, adalah salah satu keputusan nekad. Ya. Belajar dan bertemu orang-orang yang hanya diketahui lewat cerita seorang kawan. Berbekal nomer handphone dan komunikasi lewat pesan singkat menuntun kami bertiga untuk menikmati pagi di terminal Tirtonadi bersama orang-orang yang melepas lelah selepas duduk berjam-jam dalam bus untuk mengantarkan sampai tujuan masing-masing.
            Pendahuluan serupa disabdakan mas Kabut, begitu sapa Suprapto Suryodharmo padanya,  lelaki sepuh berjiwa muda yang memiliki pengaruh kuat. “Mumpung teman-teman masih mahasiswa belum bekerja belum PNS belum mendapat gelar S2 S3 kita masih sadar, ketemu itu tidak membutuhkan formalitas tidak  memerlukan rapat, tapi semalam mbah Prapto sms menanyakan jadwal yang tidak menentu. Semua bebas mengatur jadwal, berkegiatan sesuai keinginan, namun satu hal, pelan pelan kita akan memulai memasuki dunia satu ke dunia yang lain, menulis tentang berbagai hal, tentang sastra, kota, tokoh, segala hal. Karena membuat persembahan, persembahan kata-kata.“

Rabu, 05 Maret 2014

Kompleksitas Waktu Guru

Oleh: Yuslisul Pransiskasari*

Mengingat Minggu teringat ujian CPNS yang serentak diselenggarakan di Jawa Timur November tahun lalu. Rating calon guru menuai angka yang menggiurkan tiap tahun. Bersaing dengan ratusan bahkan ribuan orang menginginkan menduduki bangku PNS yang terjual melalui banyak tawaran. Guru sebagai profesi merupakan tawaran menggiurkan karena semakin mendapat perhatian intim dari pemerintah pusat. Tak heran berjubel orang bersaing untuk memperebutkan bangku guru dalam institusi pendidikan formal.

Persaingan calon guru untuk menembus institusi pendidikan formal cukup memberi gambaran umum rminat masyarakat terhadap profesi guru. Berbicara soal profesi sama halnya menarik pandangan umum untuk berpikir tentang materi. Tetek-bengek terkait suguhan gaji, lama kerja, dan rutinitas telah menjadi luapan aktivitas dan santapan sehari-hari. Berapapun nilai kenikmatan akan bisa dirasai manakala ada kejelasan nominal rupiah yang mampu mewakili gerak tubuh manusia tiap waktu, bergelut perihal pekerja pendidikan.

Senin, 03 Maret 2014

Bencana Bahasa dalam Berkomunikasi

Oleh : Yuslisul Pransiskasari*

Bencana tahunan yang tidak absen datang dan berkawan dengan masyarakat adalah banjir dan longsor. Banjir terjadi akibat adanya penumpukan sampah yang menyumbat aliran sungai. Penumpukan sampah yang dilakukan secara terus menerus dapat menekan posisi air sungai hingga volume air tersebut menaik dan meluber serta menggenangi daratan dengan kapasitas besar. Sedangkan longsor terjadi akibat anjloknya tanah karena adanya penebangan pohon yang menyebabkan hutan gundul. Penebangan hutan tersebut tidak dibarengi dengan kegiatan penanaman kembali.
            Istilah kata yang bersifat fleksibel mengantarkan kata banjir tidak hanya digunakan sebagai salah satu contoh peristiwa alam saja, sistem komunikasi manusia berpeluang untuk menuai hasil yang sama.

Aku dan Jemari

Oleh: Yuslisul Pransiskasari

Perasaan bersalah atas janji diri mulai menuai. Menghantuiku, merampas kepercayaan. Sebiji kata tak lagi hadir menjadi kegiatan harian. Aku bersalah. Aku masih belajar. Tapi tak kunjung berlangsung kembali. Padam sementara. Aku mencari nyala diri, tapi belum berhasil. Berkali-kali mas Bandung kuusik dengan sms tak penting. Beruntung masih dibalas. Namun bukan jawaban. Dan temuan itu berlari pada seorang teman. Iri ini mulai panas. Menyulut api perasaan yang lain. Menyalakan janji yang semula padam. Meminta sang induk membuahi telurnya dalam kendali suhu. Beranak pinak menghasilkan keturunan. Membentuk ikatan keluarga bernama saudara dan orang tua. Terus begitu. Kemudian nyala ini meminta penjagaan ketat layaknya sang prajurit pengawas kerajaan. Jari-jari mulai melemas, bermain tuts keyboard ASUS merahku. Terlahir buah hati dari jeda berjarak sepuluh hari. Kisah tertuang dalam lembaran selanjutnya. 

Bermula dari buku. Perjalanan puluh tahun datang silih berganti. Mengendarai kuda tanpa kendali. Keluar

Sabtu, 11 Januari 2014

Tenang, Disini



            “Boleh ya, Buk?”tanyaku pada ibu meminta izin untuk ikut berlibur melepas lelah ke salah satu pantai di Tulungagung.
Di awal semester dua lalu aku mengikuti acara liburan yang diadakan oleh salah satu organisasi extra di kampus. Sebut saja acara itu dengan nama kampung pengetahuan. Ya, itu nama salah satu agenda acaranya kali ini dan sudah rutin berlangsung setiap tahunnya. Tujuan wisata kali ini pergi ke pantai Gerangan. Salah satu obyek wisata di Tulungagung, tempat aku menimba ilmu di sebuah kampus yang dinaungi logo Kemenag.