Oleh: Yuslisul
Pransiskasari*
Keberangkatan
ke Solo Kamis malam tanpa banyak tahu informasi tentangnya, dimana letaknya,
seperti apa rupa peramainya, bagaimana kegiatan disana, adalah salah satu
keputusan nekad. Ya. Belajar dan bertemu orang-orang yang hanya diketahui lewat
cerita seorang kawan. Berbekal nomer handphone dan komunikasi lewat pesan
singkat menuntun kami bertiga untuk menikmati pagi di terminal Tirtonadi
bersama orang-orang yang melepas lelah selepas duduk berjam-jam dalam bus untuk
mengantarkan sampai tujuan masing-masing.
Pendahuluan
serupa disabdakan mas Kabut, begitu sapa Suprapto Suryodharmo padanya, lelaki sepuh berjiwa muda yang memiliki
pengaruh kuat. “Mumpung teman-teman masih mahasiswa belum bekerja belum PNS
belum mendapat gelar S2 S3 kita masih sadar, ketemu itu tidak membutuhkan
formalitas tidak memerlukan rapat, tapi
semalam mbah Prapto sms menanyakan jadwal yang tidak menentu. Semua bebas
mengatur jadwal, berkegiatan sesuai keinginan, namun satu hal, pelan pelan kita
akan memulai memasuki dunia satu ke dunia yang lain, menulis tentang berbagai
hal, tentang sastra, kota, tokoh, segala hal. Karena membuat persembahan,
persembahan kata-kata.“